Samarinda, Kaltimetam.id – Munculnya sejumlah kasus orang yang diduga melompat dari kawasan Jembatan Mahakam dalam beberapa waktu terakhir menjadi perhatian publik. Peristiwa tersebut dinilai sebagai pengingat pentingnya penguatan kepedulian terhadap kesehatan mental dan dukungan sosial di tengah masyarakat.
Ketua Ikatan Psikologi Klinis (IPK) Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI Kalimantan Timur), Ayunda Ramadhani, menegaskan bahwa bunuh diri tidak dapat disederhanakan sebagai persoalan lemahnya iman atau mental seseorang.
“Stigma seperti itu perlu diluruskan. Seseorang yang berada dalam kondisi tersebut umumnya sedang mengalami penderitaan psikologis yang sangat berat dan merasa tidak mampu lagi menanggungnya,” ujarnya.
Menurutnya, individu yang memiliki ide atau perilaku bunuh diri pada dasarnya bukan ingin mengakhiri hidup, melainkan ingin menghentikan rasa sakit emosional yang dirasakan. Kondisi tersebut biasanya dipengaruhi oleh tekanan hidup yang menumpuk, perasaan putus asa, hingga minimnya dukungan sosial di lingkungan sekitar.
Ia menjelaskan, secara psikologis terdapat sejumlah faktor risiko seperti depresi, trauma, kesulitan mengelola emosi, hingga pengalaman kehilangan atau tekanan ekonomi. Dalam teori hopelessness, seseorang dapat mencapai titik di mana ia merasa masa depan tidak lagi memiliki harapan.
Selain itu, model diathesis-stress juga menjelaskan bahwa kondisi kerentanan psikologis yang dipicu oleh stres berat dapat meningkatkan risiko seseorang mengambil keputusan fatal ketika tidak mendapatkan dukungan yang memadai.
Ayunda juga menyoroti fenomena adanya surat atau pesan yang sering ditinggalkan oleh individu yang meninggal akibat dugaan bunuh diri. Menurutnya, hal tersebut merupakan bentuk komunikasi terakhir yang sebelumnya sulit disampaikan.
“Isi pesan biasanya berupa perasaan yang terpendam, permintaan maaf, atau penjelasan yang selama ini tidak bisa diungkapkan karena takut dihakimi,” jelasnya.
Ia menambahkan, tanda-tanda risiko dapat terlihat dari perubahan perilaku seperti menarik diri, kehilangan minat pada aktivitas, atau mulai membagikan barang pribadi yang dianggap berharga.
Terkait potensi efek peniruan atau copycat behavior, Ayunda mengingatkan bahwa pemberitaan yang tidak bijak dapat memicu fenomena yang dikenal sebagai Werther Effect, yaitu kecenderungan peniruan perilaku setelah paparan informasi yang berulang di media.
Karena itu, ia mengimbau media untuk menyajikan informasi secara hati-hati serta tidak menampilkan detail yang berpotensi memicu dampak negatif, melainkan lebih menekankan aspek edukasi dan pencegahan.
Ayunda menegaskan bahwa langkah paling penting dalam pencegahan adalah memperkuat dukungan keluarga, meningkatkan literasi kesehatan mental, serta tidak ragu untuk mencari bantuan profesional ketika seseorang mengalami tekanan berat.
“Tidak apa-apa untuk tidak baik-baik saja. Namun jangan memendamnya sendirian. Dukungan sosial dan bantuan profesional sangat penting,” tutupnya. (SIK)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id







