Video Tempias Pasar Pagi Viral, PUPR Samarinda Akui Faktor Angin Luput dari Perencanaan

Kolase. Tangkapan layar tempias hujan di lantai atas Pasar Pagi Samarinda, Kepala Dinas PUPR Samarinda, Desy Damayanti angkat bicara. (Foto: Ree/Kaltimetam.id)

Samarinda, Kaltimetam.id – Hujan deras yang mengguyur Kota Samarinda beberapa waktu lalu tak hanya meninggalkan genangan di sejumlah titik, tetapi juga memicu polemik publik. Sebuah video yang memperlihatkan air hujan masuk ke lantai 6 Pasar Pagi Samarinda ramai beredar di media sosial dan menuai beragam komentar dari warganet.

Dalam rekaman tersebut, terlihat air masuk ke area dalam bangunan pasar akibat tempias hujan yang disertai angin kencang. Kondisi ini langsung memantik respons pedagang dan masyarakat yang mempertanyakan kesiapan bangunan pasar modern menghadapi cuaca ekstrem.

Sejumlah komentar warganet menyoroti aspek perencanaan bangunan, sementara pedagang menyampaikan kekhawatiran air hujan dapat merembes hingga ke ruko dan merusak barang dagangan jika kondisi serupa kembali terjadi.

Menanggapi ramainya perbincangan di ruang digital, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Samarinda angkat bicara. Kepala Dinas PUPR Samarinda, Desy Damayanti, mengakui bahwa desain Pasar Pagi sejak awal belum sepenuhnya memperhitungkan hujan dengan tekanan angin besar dari arah samping.

“Secara perencanaan memang tidak dihitung posisi air hujan ketika ada angin besar dari samping, karena itu tidak terjadi setiap hujan,” ujar Desy, Senin kemarin (5/1/2026).

Ia menjelaskan, tempias hujan masuk dari sisi kanan bangunan yang menghadap Jalan Pandai. Area tersebut masih relatif terbuka dan belum tertutup bangunan lain, sehingga hembusan angin dapat mendorong air masuk ke dalam area pasar. Kondisi ini berbeda dengan sisi kiri bangunan yang lebih terlindungi.

Pasca-kejadian yang viral tersebut, PUPR Samarinda mulai mengkaji sejumlah opsi penanganan untuk mencegah terulangnya peristiwa serupa.

Salah satu alternatif yang dipertimbangkan adalah pemasangan kanopi tambahan di sisi bangunan yang terdampak langsung oleh arah angin.

Namun demikian, Desy menyebut opsi tersebut tidak sederhana karena berkaitan dengan keseimbangan desain bangunan. Pemasangan kanopi hanya di satu sisi berpotensi mengganggu estetika, sementara pemasangan di sisi lain justru dapat memantulkan air ke bangunan sekitar.

“Kalau ditambah kanopi di sebelah kanan saja, bangunan jadi tidak simetris. Sementara kalau dipasang di kiri, air justru bisa mengarah ke bangunan lain,” jelasnya.

Selain kanopi, opsi penutupan sebagian bukaan bangunan juga masuk dalam pembahasan. Namun, langkah ini memiliki konsekuensi terhadap pencahayaan alami yang selama ini menjadi bagian dari konsep Pasar Pagi Samarinda.

Seluruh opsi penanganan tersebut saat ini masih dalam tahap evaluasi teknis dan akan dibahas lebih lanjut bersama Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) serta Wali Kota Samarinda sebelum diambil keputusan.

“Kami evaluasi dulu secara teknis, baru disampaikan ke TAPD dan Pak Wali untuk diputuskan,” katanya.

Sementara itu, Dinas Perdagangan (Disdag) Samarinda memastikan telah menurunkan tim untuk mengecek kondisi lapangan pascakejadian serta melakukan koordinasi dengan pihak pengelola pasar.

“Tim sudah turun dan masih dalam proses koordinasi,” ujar Kepala Disdag Samarinda, Nurrahmani.

Peristiwa yang viral ini menjadi catatan penting bahwa bangunan publik tidak cukup hanya tampil menarik secara estetika, tetapi juga harus dirancang dengan perhitungan teknis yang adaptif terhadap cuaca ekstrem. (REE)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id