Memasuki Musim Hujan Panjang, BPBD Kaltim Perbarui Data Logistik Bencana

Kepala BPBD Kaltim Buyung Budi Purnomo. (Foto: Ree/Kaltimetam.id)

Samarinda, Kaltimetam.id – Mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi akibat curah hujan yang diperkirakan masih tinggi hingga akhir Maret 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Timur mulai membenahi sistem kesiapan logistik dan peralatan mitigasi secara menyeluruh.

Langkah ini diarahkan untuk memastikan seluruh sumber daya penanganan bencana dapat dimobilisasi secara cepat dan tepat sasaran apabila terjadi kondisi darurat, terutama di wilayah-wilayah yang rawan terdampak banjir akibat intensitas hujan yang berkelanjutan.

Kepala BPBD Kaltim Buyung Budi Purnomo mengatakan, ketersediaan data yang akurat mengenai perlengkapan kebencanaan menjadi fondasi utama dalam membangun kesiapsiagaan daerah.

“Kami perlu memastikan seluruh perlengkapan darurat terdata dengan baik, supaya saat terjadi bencana penanganannya bisa langsung berjalan dan tidak ada kendala di lapangan,” ujar Buyung, Selasa (6/1/2026).

Pendataan yang dilakukan BPBD mencakup berbagai sarana pendukung evakuasi dan pengungsian, seperti perahu karet serta tenda darurat, baik yang berada di tingkat provinsi maupun yang tersebar di kabupaten dan kota.

Inventaris tersebut terus diperbarui untuk mengetahui kondisi dan kesiapan alat sebelum digunakan di lapangan.

Penguatan kesiapan ini juga merespons informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menempatkan Kalimantan Timur pada tingkat risiko bencana hidrometeorologi kategori sedang hingga tinggi.

Sepanjang Januari 2026, curah hujan di sejumlah wilayah tercatat masih berada pada kisaran 20 hingga 50 milimeter per hari.

Beberapa daerah menjadi fokus perhatian BPBD, terutama Kabupaten Berau dan Kutai Timur, yang dinilai masih berpotensi mengalami hujan intens akibat pengaruh dinamika cuaca regional, termasuk sistem angin dari kawasan Pasifik.

“Peristiwa banjir yang terjadi kemarin di Wahau itu dipicu oleh luapan sungai, bukan faktor lain, dan ini menjadi perhatian kami untuk terus dipantau,” katanya.

Namun demikian, hingga saat ini BPBD Kaltim belum menerima laporan kejadian tanah longsor di wilayah terdampak.

Buyung menjelaskan, karakteristik tanah di Kalimantan Timur berbeda dengan daerah lain yang memiliki kontur pegunungan curam, sehingga potensi longsor relatif lebih kecil.

“Untuk kejadian longsor, sampai sekarang belum ada laporan yang masuk, karena memang kondisi dan profil tanah kita berbeda dengan wilayah lain seperti di Sumatera,” jelasnya.

Dalam menghadapi potensi bencana tersebut, BPBD Kaltim terus memperkuat koordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), BPBD kabupaten/kota, serta instansi terkait lainnya, meskipun belum ada penetapan status siaga.

Koordinasi lintas sektor juga dilakukan bersama Dinas Sosial untuk memastikan kesiapan logistik pangan dan kebutuhan dasar jika sewaktu-waktu diperlukan pengungsian.

Buyung menegaskan, seluruh unsur penanganan bencana telah disiapkan untuk bergerak cepat apabila terjadi peningkatan eskalasi dampak.

“Personel gabungan dari BPBD, Tagana, Dinas Sosial, hingga tenaga kesehatan kami siapkan, sehingga kapan pun dibutuhkan semuanya bisa langsung dikerahkan,” tutup Buyung. (REE)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id