Langgar Al Falah Samarinda Hidupkan Tradisi Bubur Asyura, Lebih dari 3.000 Porsi Dibagikan ke Warga Sekitar

Suasana kebersamaan dan kepedulian sosial tampak mewarnai kegiatan pembagian bubur Asyura di Langgar Al Falah, Jalan Muso Salim, Samarinda. (Foto: Siko/Kaltimetam.id)

Samarinda, Kaltimetam.id – Suasana kebersamaan dan kepedulian sosial tampak mewarnai kegiatan pembagian bubur Asyura di Langgar Al Falah, Jalan Muso Salim, Samarinda. Tradisi yang telah berlangsung beberapa tahun terakhir ini kembali digelar dengan melibatkan partisipasi aktif warga sekitar yang bergotong royong sejak proses persiapan hingga pembagian kepada masyarakat.

Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi agenda rutin keagamaan, tetapi juga telah berkembang menjadi ruang sosial yang memperkuat solidaritas antarwarga di lingkungan sekitar.

Perwakilan Langgar Al Falah, Muhammad Bin Alwi Assegaf, mengungkapkan bahwa kegiatan tahun ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya, baik dari jumlah bahan maupun hasil akhir yang dibagikan kepada masyarakat.

“Alhamdulillah tahun ini sekitar 215 kilogram bahan dari sumbangan warga sekitar yang kami masak bersama,” ujarnya.

Dari jumlah tersebut, bubur Asyura yang dihasilkan diperkirakan mencapai lebih dari 3.000 porsi, yang kemudian dibagikan secara gratis kepada masyarakat.

“Insya Allah bisa lebih dari 3.000 porsi dan habis sampai ba’da Asar,” tambahnya.

Alwi menjelaskan bahwa kegiatan ini pada awalnya hanya dilakukan secara sederhana oleh warga di lingkup kecil atau gang sekitar. Namun seiring waktu, kegiatan tersebut berkembang menjadi agenda bersama yang dipusatkan di Langgar Al Falah.

“Sebelumnya masih perorangan di gang-gang, sekarang sudah dipusatkan di langgar. Sudah sekitar empat tahun berjalan di sini,” jelasnya.

Perubahan ini, menurutnya, menunjukkan semakin kuatnya kesadaran masyarakat untuk menjaga tradisi sekaligus memperluas manfaat kegiatan sosial di lingkungan mereka.

Antusiasme warga terlihat dari meningkatnya jumlah donasi bahan makanan serta keterlibatan langsung dalam proses memasak. Kegiatan ini melibatkan banyak relawan yang bekerja sama mulai dari persiapan bahan hingga proses pengolahan menggunakan beberapa kuali besar.

“Ini dari masyarakat, oleh masyarakat, untuk masyarakat. Kami hanya perantara saja,” ucapnya.

Tahun ini, proses memasak dilakukan menggunakan sekitar lima hingga enam kawah besar, yang seluruhnya dikerjakan secara gotong royong.

Selain menjadi kegiatan berbagi makanan, bubur Asyura di Langgar Al Falah juga dimaknai sebagai bentuk pengamalan nilai keagamaan dan sejarah.

Terakhir, Alwi menyebut tradisi ini memiliki nilai keteladanan yang dikaitkan dengan kisah para nabi terdahulu yang menggambarkan pentingnya kebersamaan dan berbagi kepada sesama.

“Kami ingin mengikuti teladan para nabi terdahulu. Ini bukan hanya soal makanan, tetapi juga kebersamaan dan kepedulian,” tutupnya. (SIK)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id

Exit mobile version