Langganan Banjir 30 Tahun, SDN 012 Sungai Kunjang Samarinda Sepi Peminat dan Diusulkan Dibangun Ulang

Tampak bangunan SDN 012 Sungai Kunjang yang relatif masih baik, tetapi berada di kawasan rendah dan sejajar dengan jalan, menyebabkan banjir saat hujan. (Foto: Ree/Kaltimetam.id)

Samarinda, Kaltimetam.id – Kondisi SD Negeri 012 di Kecamatan Sungai Kunjang, Samarinda, yang kerap terdampak banjir saat hujan, kini tak hanya mengganggu aktivitas belajar mengajar, tetapi juga mulai berdampak pada jumlah peserta didik.

Sekolah yang berada di kawasan cekungan ini dilaporkan mengalami genangan air hingga lebih dari setengah meter, bahkan masuk ke dalam ruang kelas.

Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Kota Samarinda untuk turun langsung meninjau lokasi. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Samarinda, Ibnu Araby, bersama Tim Wali Kota untuk Akselerasi Pembangunan (TWAP), Dinas PUPR, BPKAD, Bagian Hukum, serta jajaran kecamatan dan kelurahan melakukan kunjungan lapangan pada Kamis (4/6/2026).

Dalam kunjungan itu, rombongan tidak hanya melihat kondisi fisik sekolah, tetapi juga berdiskusi dengan pihak sekolah terkait rencana penanganan, termasuk kemungkinan pembangunan ulang atau revitalisasi secara menyeluruh.

“Kita menerima laporan terkait kondisi SD 012 Sungai Kunjang ini, hari ini kami kesini berkunjung, berdiskusi dengan Kepala Sekolah terkait kondisi SD 012 ini,” terang Ibnu Araby.

Ia menjelaskan, kondisi geografis sekolah yang berada di daerah cekungan menjadi penyebab utama banjir yang terus berulang. Setiap hujan dengan intensitas tinggi, air akan menggenangi area sekolah hingga ke dalam ruang kelas dan kantor.

Sebenarnya, Disdikbud Kota Samarinda, kata dia, telah menyusun Detail Engineering Design (DED) pada tahun anggaran 2025 sebagai langkah awal penanganan. Namun, realisasi pembangunan masih menunggu kondisi keuangan daerah yang memungkinkan.

“Sekolah ini berada di daerah cekungan, sehingga kalau hujan pasti tergenang, bahkan bisa lebih dari setengah meter. DED sudah kami siapkan tahun 2025, dan kami berharap pembangunan lanjutan bisa dilakukan pada 2027, menyesuaikan kondisi keuangan daerah,” jelasnya.

Dalam pembahasan bersama, muncul usulan perubahan konsep pembangunan. Jika sebelumnya direncanakan peninggian lahan sekitar 1,5 meter, kini dipertimbangkan pembangunan berbentuk panggung agar air dapat mengalir di bawah bangunan dan tidak lagi menggenangi area sekolah.

Ibnu Araby menyebut, opsi tersebut masih dalam tahap kajian dengan menyesuaikan kondisi lapangan, mengingat beberapa sekolah di wilayah rawan banjir telah menerapkan konsep serupa.

Sementara itu, dari sisi sekolah, Plt Kepala SD Negeri 012 Sungai Kunjang, Laode Akahan Haira, menilai persoalan banjir yang terus terjadi membuat proses belajar mengajar sering terhenti.

Bahkan, genangan air bisa bertahan hingga dua sampai tiga hari dan meninggalkan lumpur tebal di dalam ruangan.

“Kami dari pihak sekolah berharap bisa dibangun ulang, karena kalau hanya direnovasi, hanya perbaikin yang rusak itu kurang efektif. Karena setiap hujan itu selalu banjir. Banjirnya bahkan sampai selutut kalau banjir dalamnya,” tutur Laode.

Tak hanya itu, dampak banjir juga mulai dirasakan pada minat orang tua dalam menyekolahkan anaknya di SD tersebut. Banyak orang tua memilih sekolah lain yang dianggap lebih aman dari banjir, meskipun jaraknya lebih jauh dari rumah.

Ia mengungkapkan, sebagian warga di sekitar Perumahan justru menyekolahkan anak mereka ke SD lain yang bebas banjir. Kondisi ini membuat jumlah siswa di SD Negeri 012 tidak berkembang secara maksimal.

“Dampaknya, orang tua lebih memilih menyekolahkan anak ke sekolah lain yang lebih jauh karena di sana bebas banjir. Di sini sebenarnya dekat, tapi mereka khawatir, jadi muridnya tidak terlalu banyak,” ungkapnya.

Saat ini, SD Negeri 012 memiliki 10 tenaga pendidik dengan total 176 siswa yang terbagi dalam tujuh rombongan belajar.

Pihak sekolah berharap pemerintah dapat segera merealisasikan pembangunan yang direncanakan, sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung normal tanpa terganggu kondisi cuaca.

“Harapan ke depan, sekolah ini adalah intinya supaya enggak banjir gitu aja. Nah, sebenarnya ruang kelasnya masih layak dipakai ya, cuma permasalahan utamanya adalah banjir. Kalau sekolahnya ditinggikan, itu aman. Jadi anak-anak enggak harus libur pada saat hujan menderas,” tukas Laode. (REE)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id

Exit mobile version