Samarinda, Kaltimetam.id – Rencana pengoperasian gedung baru Pasar Pagi Samarinda memunculkan kekhawatiran tersendiri di kalangan pedagang kecil. Bukan soal ukuran kios atau tarif retribusi, melainkan pola penempatan pedagang yang dinilai bisa menentukan hidup-matinya usaha mereka.
Keresahan itu terutama datang dari pedagang konveksi dan pakaian eceran yang khawatir ditempatkan di lantai atas gedung tujuh lantai tersebut.
Mereka menilai, penataan zonasi yang bertumpu pada jenis komoditas berisiko mengabaikan pola bergeraknya pembeli, faktor yang menjadi sumber utama perputaran uang di pasar tradisional.
Jufriansyah, salah satu pedagang konveksi, menyebut pengalaman penataan di sejumlah pasar terdahulu seharusnya menjadi pelajaran.
Menurutnya, pedagang eceran sangat mengandalkan pembeli spontan yang datang langsung dari pintu masuk pasar.
“Kalau eceran ditaruh di lantai tinggi, itu sama saja memutus aliran pembeli. Di pasar, arus manusia itu arus uang. Kalau alirannya berhenti, perputaran uang ikut terputus,” ujarnya, Jum’at (9/1/2025).
Dalam rancangan awal, ia menyebut pedagang pengecer sempat dipetakan menempati lantai 3 hingga 6, sementara lantai 6 dan 7 menjadi area grosir. Namun posisi akhirnya tetap menunggu kebijakan Pemerintah Kota Samarinda.
Mengacu pada pembagian resmi, gedung baru Pasar Pagi akan difungsikan sebagai berikut:
– Lantai 1: ikan, daging, sayur (pedagang basah)
– Lantai 2: komoditas pertanian
– Lantai 3–4: emas, perhiasan, aksesoris
– Lantai 5–7: grosir pakaian & perlengkapan rumah tangga
Namun bagi pedagang, susunan tersebut dianggap belum mempertimbangkan bagaimana pengunjung bergerak di ruang vertikal.
“Pembeli itu nggak semua mau naik. Kalau eceran ditempatkan di lantai yang tinggi, peluang mereka berjualan langsung turun,” ujar Jufriansyah.
Ia menyinggung penataan cluster di Pasar Segiri yang sempat dikeluhkan pedagang karena pola peletakan kios yang tidak sesuai arus pengunjung.
Menurutnya, banyak pedagang yang akhirnya kehilangan pelanggan setelah relokasi karena titik berdagang tidak lagi berada di jalur lalu-lalang pembeli.
“Bangunan bagus tidak menjamin pembeli mau naik ke lantai tertentu. Pasar Segiri sudah jadi contoh. Jangan sampai itu terulang,” katanya.
Para pedagang berharap Pemerintah Kota Samarinda, melalui Dinas Perdagangan dan UPTD Pasar Pagi, melakukan kajian khusus berbasis perilaku konsumen, bukan semata-mata pengelompokan jenis barang.
Jufriansyah menekankan bahwa banyak pedagang eceran menggantungkan hidup pada satu kios saja.
“Kalau aliran pembeli tidak masuk ke kios mereka, otomatis hidup mereka ikut terpukul. Flow of people itu flow of money. Tempatkan pedagang sesuai arus tersebut,” tandasnya. (REE)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id







