Kasus Dugaan Kawat Tertinggal di Arteri Jantung Jadi Ujian Transparansi Pelayanan RSUD AWS Samarinda

Hasil Rontgen kawat yang masih tertinggal. (Foto: Istimewa)

Samarinda, Kaltimetam.id – Sebuah map merah berada erat di tangan DW saat melangkah memasuki RSUD Abdul Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda. Di dalam map itu tersimpan surat somasi yang menjadi simbol perjuangan keluarga untuk mencari jawaban atas apa yang terjadi pada sang ayah, EW, setelah menjalani tindakan pemasangan ring jantung di rumah sakit rujukan terbesar di Kalimantan Timur tersebut.

Bagi keluarga, langkah hukum itu bukan semata-mata untuk mencari siapa yang salah. Mereka mengaku hanya ingin mendapatkan penjelasan yang jujur dan transparan setelah muncul dugaan adanya kawat (wire) yang tertinggal di dalam pembuluh darah jantung pasien dan baru diketahui ketika menjalani pemeriksaan lanjutan di Singapura.

Kasus ini bermula pada 19 Februari 2026, ketika EW mengeluhkan nyeri dada dan segera dilarikan keluarganya ke RSUD AWS Samarinda. Sebagai rumah sakit rujukan utama dengan akreditasi paripurna dan berbagai layanan unggulan, RSUD AWS selama ini menjadi tumpuan masyarakat Kalimantan Timur untuk mendapatkan pelayanan kesehatan tingkat lanjut.

Saat itu dokter melakukan prosedur kateterisasi jantung yang kemudian dilanjutkan dengan pemasangan ring atau stent. Menurut DW, keluarga sempat mempertanyakan keputusan pemasangan ring tersebut karena saat proses berlangsung mereka juga berkonsultasi dengan dokter keluarga di Singapura yang disebut hanya menyarankan tindakan angioplasti atau pelebaran pembuluh darah menggunakan balon.

Meski demikian, tindakan pemasangan ring tetap dilakukan di Samarinda.

Usai prosedur, keluarga sempat merasa lega setelah dokter menyampaikan kondisi pasien dalam keadaan baik. Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama. Beberapa hari kemudian EW kembali mengeluhkan nyeri dada yang cukup hebat, bahkan saat menjalani prosedur cuci darah rutin.

Keluarga awalnya menganggap kondisi tersebut sebagai bagian dari proses pemulihan pascaoperasi. Namun kecurigaan mulai muncul ketika pasien diberikan morfin sebagai obat pereda nyeri.

“Ini membuat kami curiga ada sesuatu yang tidak beres,” ujar DW.

Merasa ada yang janggal, keluarga akhirnya mengambil keputusan besar dengan menerbangkan EW ke Mount Elizabeth Novena Hospital, Singapura menggunakan pesawat charter yang disewa secara pribadi.

Di rumah sakit tersebut, tim dokter melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap kondisi pasien. Dari hasil evaluasi itulah keluarga mengaku menerima informasi yang mengejutkan.

Menurut DW, dokter di Singapura menemukan adanya kawat atau wire di dalam arteri Left Anterior Descending (LAD), salah satu pembuluh darah utama yang menyuplai darah ke jantung. Kawat tersebut diduga tertinggal saat proses pemasangan stent sebelumnya dan menyebabkan penyumbatan serius pada pembuluh darah utama pasien.

“Dokter di Singapura menjelaskan bahwa ada kawat yang tertinggal, sementara keluarga sama sekali tidak tahu sehingga sempat shock,” katanya.

Akibat kondisi tersebut, tim dokter di Singapura akhirnya memutuskan melakukan operasi bypass arteri koroner untuk membuat jalur baru aliran darah menuju jantung. Menurut keluarga, tindakan bypass dipilih karena keberadaan kawat tersebut tidak memungkinkan untuk diangkat secara langsung tanpa risiko yang lebih besar terhadap keselamatan pasien.

Selain mempersoalkan dugaan adanya kawat yang tertinggal, keluarga juga menyoroti proses permintaan rekam medis dari RSUD AWS Samarinda.

DW mengaku sempat menerima rekaman tindakan kateterisasi dalam bentuk CD. Namun ketika diperiksa oleh dokter di Singapura, data tersebut disebut tidak dapat dibuka. Setelah dilakukan permintaan ulang, keluarga kembali menerima rekam medis, tetapi menurut mereka data yang diberikan belum memuat keseluruhan rekaman tindakan yang dibutuhkan untuk evaluasi medis secara menyeluruh.

Persoalan itu kemudian berlanjut ke tahap mediasi antara keluarga pasien dan pihak rumah sakit.

Dalam salah satu pertemuan, keluarga menyebut dokter yang melakukan tindakan telah menyampaikan permohonan maaf terkait adanya kawat yang tertinggal. Namun bagi mereka, inti persoalan bukan hanya soal permintaan maaf, melainkan minimnya keterbukaan informasi sejak awal kejadian.

“Kalau memang ada masalah saat tindakan, mengapa keluarga tidak diberi tahu? Nomor kontak kami ada dan kami selalu bisa dihubungi,” ujar DW.

Kini kondisi EW dilaporkan mulai membaik setelah menjalani operasi bypass dan memasuki masa pemulihan di Singapura. Namun bagi keluarganya, perjuangan belum selesai.

Mereka menegaskan langkah somasi dilakukan bukan untuk memperpanjang konflik, melainkan untuk memastikan ada kejelasan serta evaluasi terhadap pelayanan medis agar kejadian serupa tidak kembali menimpa pasien lain.

Kasus ini menjadi perhatian publik karena menyangkut isu yang sangat mendasar dalam dunia kesehatan, yakni keselamatan pasien, transparansi informasi medis, dan akuntabilitas rumah sakit dalam menangani insiden yang tidak diinginkan.

Dalam beberapa waktu terakhir, RSUD AWS juga sempat menjadi sorotan dalam sejumlah kasus pelayanan kesehatan yang memunculkan tuntutan evaluasi dan audit medis dari berbagai pihak.

Sementara itu, pihak RSUD AWS Samarinda menyatakan telah berkomunikasi dengan keluarga pasien dan menjadwalkan pertemuan lanjutan untuk melakukan penelaahan serta memberikan penjelasan terkait persoalan tersebut.

Hingga saat ini belum ada kesimpulan resmi yang menyatakan telah terjadi malapraktik dalam kasus yang dialami EW. Namun bagi keluarga, yang mereka cari bukan sekadar jawaban hukum.

Mereka ingin memastikan bahwa setiap pasien yang datang dengan harapan sembuh mendapatkan hak yang sama: pelayanan yang aman, informasi yang jujur, dan keterbukaan ketika sesuatu yang tidak diharapkan terjadi di ruang perawatan.

Sebab di balik setiap tindakan medis, ada nyawa yang dipertaruhkan dan ada keluarga yang menitipkan harapan terbesar mereka kepada rumah sakit. (SIK)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id

Exit mobile version