Samarinda, Kaltimetam.id – Di sejumlah pasar di Kalimantan Timur, harga beras, minyak goreng, hingga cabai terpantau stabil meski sempat dikhawatirkan naik menjelang akhir tahun. Kondisi ini bukan tanpa alasan. Pemerintah provinsi ternyata sudah memiliki mekanisme khusus untuk mengantisipasi gejolak harga sejak dini.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM (Disperindagkop & UKM) Kaltim, Heni Purwaningsih, mengungkapkan bahwa sistem peringatan dini atau early warning system (EWS) menjadi senjata utama dalam menjaga inflasi tetap terkendali.
“Dengan EWS, kami bisa memprediksi komoditas mana yang berpotensi memicu inflasi, sehingga intervensi bisa dilakukan lebih cepat,” jelasnya setelah menghadiri rapat koordinasi pengendalian inflasi di Kantor Gubernur Kaltim, Selasa (2/9/2025).
Data terbaru mencatat laju inflasi Kaltim pada Agustus 2025 hanya berada di angka 1,79 persen year-on-year. Angka ini jauh di bawah target nasional 0–3,5 persen, menandakan kebijakan pengendalian harga berjalan efektif.
Begitu ada sinyal kenaikan harga, pemerintah bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Bulog bergerak cepat menggelar operasi pasar dan Gerakan Pangan Murah (GPM). Langkah ini terbukti ampuh meredam potensi lonjakan harga terutama pada komoditas utama.
“Kalau ada indikasi harga beras atau minyak naik, operasi pasar langsung digelar untuk menekan harga kembali stabil,” tambah Heni.
Dikatakannya, saat ini operasi pasar dan GPM masih berlangsung di Bontang dan Kutai Timur bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat sebagai bentuk upaya untuk menjaga daya beli dan memastikan kebutuhan pokok masyarakat terjangkau hingga akhir tahun. (REE)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id







