Samarinda, Kaltimetam.id – Upaya menggeser arah pembangunan Kota Samarinda menuju sektor non-tambang mulai mendapat sorotan serius.
Di tengah target “Samarinda Bebas Tambang 2026”, sektor budaya dan pariwisata dinilai bisa menjadi tumpuan baru, meski hingga kini masih dihadapkan pada keterbatasan dukungan anggaran.
Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda untuk menjadikan festival budaya sebagai agenda tetap daerah menjadi salah satu langkah awal dalam membangun identitas baru kota.
Namun, dorongan tersebut dinilai belum akan optimal jika tidak diiringi dengan komitmen pembiayaan yang memadai.
Wakil Ketua DPRD Samarinda, Celni Pita Sari, menegaskan bahwa perubahan arah pembangunan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.
Ketergantungan pada sektor tambang, menurutnya, harus segera dikurangi dengan memperkuat sektor alternatif yang lebih berkelanjutan.
Ia melihat budaya dan pariwisata memiliki potensi besar untuk dikembangkan, terutama sebagai sarana memperkenalkan wajah Samarinda ke tingkat yang lebih luas.
Festival budaya, dalam konteks ini, bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bisa menjadi pintu masuk untuk menarik kunjungan dan menggerakkan ekonomi lokal.
“Kalau kita mau lepas dari ketergantungan tambang, maka sektor seperti budaya dan pariwisata harus mulai kita seriuskan,” ujarnya, Rabu (20/5/2026).
Meski demikian, kondisi riil di lapangan menunjukkan tantangan yang tidak ringan. Dari hasil pembahasan bersama, diketahui bahwa alokasi anggaran untuk sektor kebudayaan di Samarinda masih sangat terbatas, bahkan hanya berkisar Rp1 miliar lebih.
Jumlah tersebut dinilai jauh dari cukup jika dibandingkan dengan ambisi menjadikan festival budaya sebagai event unggulan daerah.
Terlebih, sebagian besar anggaran yang ada masih terserap untuk kegiatan dasar, sehingga ruang untuk pengembangan program strategis menjadi sangat terbatas.
Celni pun menyoroti kesenjangan tersebut dengan membandingkan daerah lain yang dinilai lebih progresif dalam mengembangkan sektor pariwisata berbasis budaya.
“Kalau kita lihat daerah lain seperti Kukar, mereka berani mengalokasikan anggaran besar untuk pariwisata. Itu yang membuat event mereka hidup dan mampu menarik orang datang,” kata Celni.
Menurutnya, keberhasilan suatu daerah dalam membangun sektor pariwisata tidak lepas dari keseriusan dalam mendukungnya, termasuk dari sisi anggaran.
Tanpa itu, program yang dirancang dikhawatirkan hanya akan berhenti sebagai agenda rutin tanpa dampak signifikan.
Saat ini, DPRD bersama pihak terkait tengah merumuskan langkah strategis untuk menggali potensi budaya lokal yang bisa dikembangkan menjadi daya tarik khas Samarinda.
Proses tersebut mencakup identifikasi kekuatan budaya hingga konsep penyelenggaraan festival yang mampu bersaing dengan daerah lain.
Celni menilai, festival budaya harus dikemas secara berkelanjutan dan memiliki ciri khas yang kuat agar mampu menjadi identitas kota.
Dengan begitu, Samarinda tidak hanya dikenal sebagai kota penyangga Ibu Kota Nusantara, tetapi juga sebagai daerah yang memiliki kekayaan budaya yang hidup.
Di tengah keterbatasan yang ada, ia tetap optimistis bahwa sektor ini bisa berkembang jika didukung dengan kebijakan yang tepat dan kolaborasi lintas pihak.
Namun demikian, ia kembali menekankan bahwa penguatan anggaran menjadi kunci utama agar rencana besar tersebut tidak berhenti di tahap wacana.
“Mudah-mudahan ke depan ada keberpihakan anggaran yang lebih kuat, supaya pengembangan budaya ini benar-benar bisa jadi kekuatan baru, bukan sekadar kegiatan seremonial,” tandasnya. (REE)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id
