DLH Samarinda Tegaskan Taman Bebaya Tetap Dibuka, Penutupan Sementara Hanya Berlaku untuk Area Parkir Imbas Ulat Bulu

Kondisi terkini Taman Bebaya Samarinda. (Foto: Siko/Kaltimetam.id)

Samarinda, Kaltimetam.id – Pemerintah Kota Samarinda melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menegaskan bahwa Taman Bebaya hingga saat ini tidak ditutup untuk umum, menyusul beredarnya surat edaran yang ramai ditafsirkan sebagai penutupan total kawasan ruang terbuka hijau tersebut.

Klarifikasi ini disampaikan DLH setelah muncul keresahan masyarakat terkait kemunculan ulat bulu di sekitar kawasan bantaran Sungai Mahakam.

Kepala Bidang Tata Lingkungan dan Pertamanan Dinas Lingkungan Hidup Samarinda, Basuni, menjelaskan bahwa substansi surat edaran yang beredar sebenarnya hanya mengatur penutupan sementara area parkir, bukan penutupan akses pengunjung ke taman.

“Kalau dibaca secara cermat, yang ditutup itu adalah tempat parkir, bukan taman. Taman Bebaya sampai hari ini masih dibuka dan masih bisa dikunjungi masyarakat,” ujar Basuni saat ditemui, Selasa (06/01/2026).

Menurutnya, pengelolaan kawasan Taman Bebaya memang terbagi dua. Area taman sepenuhnya dikelola DLH, sementara sebagian lahan parkir berada di bawah pengelolaan Dinas Perhubungan. Penutupan parkir dilakukan sebagai langkah antisipatif agar pengunjung tidak terlalu lama berada di area yang berdekatan langsung dengan bantaran sungai, lokasi utama ditemukannya ulat bulu.

Basuni menekankan bahwa kemunculan ulat bulu bukan terjadi di dalam area taman, melainkan pada pepohonan di sisi badan Sungai Mahakam yang berdampingan dengan kawasan Taman Bebaya. Fenomena tersebut, kata dia, telah terdeteksi sejak akhir November hingga Desember 2025.

“Ulat bulu itu ada di pohon-pohon pinggir sungai, bukan di tanaman taman. Karena itu kami bekerja sama dengan BPBD melakukan penyemprotan dan pengendalian sejak awal,” jelasnya.

DLH Samarinda bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah melakukan serangkaian langkah mitigasi, mulai dari pemantauan rutin, penyemprotan cairan ramah lingkungan, hingga pemasangan imbauan kewaspadaan bagi pengunjung. Hasil pemantauan terakhir menunjukkan jumlah ulat bulu mengalami penurunan signifikan dibandingkan kondisi pada Desember lalu.

“Kalau dibandingkan bulan lalu, sekarang jauh menurun. Masih ada, tapi tidak masif. Dan sampai hari ini belum ada lonjakan keluhan dari pengunjung,” tambah Basuni.

Ia mengakui bahwa sebagian pegawai DLH yang bertugas di lapangan sempat merasakan dampak gatal, terutama mereka yang memiliki kulit sensitif. Namun kondisi tersebut justru menjadi indikator awal bagi petugas untuk melakukan tindakan pencegahan lebih cepat sebelum dampak dirasakan masyarakat luas.

“Pegawai kami itu ibarat sensor pertama. Kalau mereka sudah merasakan gatal, berarti kita harus segera bertindak. Itulah yang kami lakukan,” tuturnya.

DLH juga menegaskan bahwa penutupan total taman tetap menjadi opsi terakhir apabila kondisi dinilai membahayakan keselamatan publik. Namun hingga saat ini, berdasarkan evaluasi lapangan dan koordinasi dengan pengawas taman, situasi dinilai masih terkendali.

“Kami tidak ragu menutup taman kalau memang berisiko. Tahun-tahun sebelumnya pernah kami lakukan. Tapi untuk sekarang, kondisinya belum sampai ke tahap itu,” tegasnya.

Terkait penanganan jangka panjang, Basuni menjelaskan bahwa persoalan ulat bulu tidak bisa diselesaikan secara instan karena berkaitan dengan siklus alam dan ekosistem sungai. Pepohonan di bantaran Mahakam, kata dia, juga memiliki fungsi ekologis penting sebagai habitat ikan dan burung.

“Menghilangkan pohon bukan solusi bijak. Itu wilayah sungai yang juga bukan kewenangan DLH sepenuhnya. Penanganan harus lintas instansi dan melalui kajian matang,” katanya.

DLH Samarinda menargetkan pengendalian dilakukan secara berkelanjutan melalui pemantauan rutin, penyemprotan selektif, serta edukasi kepada masyarakat agar lebih waspada, terutama bagi pengunjung dengan kulit sensitif. Masyarakat diimbau tidak terlalu dekat ke bantaran sungai dan memperhatikan kondisi sekitar sebelum beraktivitas di taman.

“Kami ingin ruang publik tetap bisa dinikmati, tapi keselamatan warga juga harus diutamakan. Itu prinsip yang kami pegang,” pungkasnya. (SIK)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id