Samarinda, Kaltimetam.id – Upaya pengendalian rabies di Kota Samarinda masih menghadapi tantangan di tengah padatnya agenda kesehatan hewan tahun ini.
Hingga pertengahan Mei 2026, capaian vaksinasi rabies baru menyentuh sekitar 600 dosis, dari target 2.000 dosis yang ditetapkan rampung sebelum Juli.
Kondisi ini tidak lepas dari pembagian fokus tenaga medis veteriner yang saat ini juga disibukkan dengan penanganan vaksinasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada sapi, terutama menjelang momentum Iduladha.
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Samarinda, Maskuri, menjelaskan bahwa keterbatasan sumber daya membuat penanganan dua program kesehatan hewan harus berjalan beriringan.
“Saat ini dokter hewan dan paramedik laki-laki fokus ke sapi untuk PMK, sementara yang perempuan menangani vaksin rabies,” ujarnya, Selasa (12/5/2026).
Menurutnya, situasi ini berdampak pada laju vaksinasi rabies yang tidak secepat tahun sebelumnya. Pada 2025, program serupa bahkan mampu menembus hingga 7.000 dosis dalam setahun.
Meski demikian, pemerintah tetap mengoptimalkan berbagai cara agar target tahun ini dapat tercapai.
Vaksinasi rabies terus menyasar hewan pembawa rabies seperti anjing, kucing, musang, hingga monyet, dengan prioritas pada hewan liar dan hewan rescue yang ditangani komunitas pecinta hewan.
Selain mengandalkan petugas lapangan, DKPP Samarinda juga memperluas kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk klinik hewan, pet shop, serta Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) untuk mempercepat jangkauan vaksinasi di masyarakat.
Skema kerja sama ini memungkinkan distribusi vaksin tetap berjalan, meskipun pelaksanaannya melibatkan pihak swasta.
Pemerintah menyediakan vaksin secara gratis, sementara layanan jasa medis mengikuti kebijakan masing-masing klinik.
“Vaksinnya dari kami gratis, tapi untuk jasa di klinik itu kewenangan mereka,” jelas Maskuri.
Dengan waktu yang tersisa hingga Juli, DKPP Samarinda berupaya mengejar target vaksinasi melalui sinergi lintas pihak dan optimalisasi tenaga yang ada.
Langkah ini dinilai penting untuk menekan potensi penyebaran rabies di wilayah perkotaan yang memiliki populasi hewan peliharaan cukup tinggi. (REE)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id







