Samarinda, Kaltimetam.id – Di tengah aktivitas industri yang terus meningkat, para pekerja di Kalimantan Timur masih dihadapkan pada risiko kecelakaan kerja yang sering kali terjadi akibat kelalaian sistem keselamatan. Mulai dari alat kerja tak layak pakai, operator tanpa sertifikasi, hingga lingkungan kerja yang tak memenuhi syarat kesehatan. Padahal, bekerja tak seharusnya membuat nyawa dipertaruhkan.
Melihat kondisi ini, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kalimantan Timur mendorong penuh penerapan budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sebagai kewajiban mendasar setiap perusahaan. Bukan hanya slogan, melainkan sistem kerja yang konkret dan terukur.
Kepala Disnakertrans Kaltim, Rozani Erawadi, menjelaskan bahwa penyebab kecelakaan kerja dapat ditelusuri dari tiga aspek utama: manusia (operator), alat kerja, dan lingkungan. Operator yang mengoperasikan peralatan berat harus memiliki surat izin resmi. Begitu juga dengan alat kerja yang wajib melalui uji kelayakan dan sertifikasi dari lembaga berwenang.
“Kalau alat berarti operatornya. Berarti operatornya harusnya memiliki surat izin operasi dari yang berwenang,” jelas Rozani, Jum’at (25/7/2025).
Ia juga menyoroti pentingnya verifikasi alat kerja. Jika alat belum bersertifikasi, perusahaan diminta segera mengurus kelayakan operasional demi mencegah insiden di lapangan.
Selain itu, perhatian terhadap lingkungan kerja juga menjadi fokus utama. Aspek fisik seperti suhu, pencahayaan, kebisingan, hingga potensi paparan zat kimia atau biologis harus dipastikan aman dan sesuai standar kesehatan kerja. Hal-hal semacam ini tak boleh diabaikan karena menyangkut kualitas hidup pekerja secara langsung.
Tak hanya alat dan lingkungan, Rozani juga menekankan pentingnya penyediaan fasilitas penunjang seperti layanan kesehatan kerja dan katering yang layak.
Jika perusahaan tidak memiliki fasilitas kesehatan mandiri, mereka wajib menjalin kerja sama dengan unit layanan kesehatan milik pemerintah setempat yang memiliki standar K3.
Lebih, Rozani mengingatkan pentingnya perubahan pola pikir di kalangan pelaku usaha.
“Jangan sampai dengan SDA kita, dengan batubara kita yang kita ambil sehari-hari, tapi lingkungan kita tidak kita perhatikan,” tegasnya. (REE)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id







