Samarinda, Kaltimetam.id – Warga Kota Samarinda dikejutkan dengan berubahnya warna aliran drainase di kawasan Jalan Wahid Hasyim II hingga Jalan Wahid Hasyim I menjadi oranye pekat pada Rabu (6/5/2026) tengah malam. Setelah ditelusuri, cairan tersebut diketahui merupakan minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) yang tumpah dan terbawa arus air hingga masuk ke saluran drainase kota.
Kondisi itu memicu kekhawatiran masyarakat karena aliran drainase tersebut bermuara langsung ke Sungai Karang Mumus, tepatnya di sekitar kawasan GOR Madya Sempaja. Warga khawatir pencemaran tersebut dapat berdampak terhadap lingkungan dan kualitas air sungai yang selama ini menjadi bagian penting dari ekosistem perkotaan Samarinda.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, tumpahan minyak sawit mentah itu berasal dari sebuah truk tangki bernomor polisi BK 8330 FK yang mengalami kecelakaan dan terguling di Jalan Wahid Hasyim II. Akibat insiden tersebut, muatan CPO tumpah ke badan jalan lalu mengalir masuk ke drainase hingga terbawa menuju aliran sungai.
Anggota Komisi III DPRD Samarinda, Andriansyah, menegaskan bahwa persoalan ini tidak boleh dianggap sepele karena menyangkut pencemaran lingkungan yang dampaknya bisa dirasakan masyarakat luas.
“Ini masalah pencemaran lingkungan, jangan dibiarkan. Harus ada pertanggungjawaban dari pemilik CPO-nya,” tegasnya.
Menurut Andriansyah, pihak yang bertanggung jawab atas muatan CPO harus segera mengambil langkah nyata untuk menangani dampak pencemaran, termasuk melakukan pembersihan dan pemulihan lingkungan di area terdampak.
Ia juga meminta seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, termasuk Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Balai Wilayah Sungai (BWS), hingga aparat penegak hukum, segera turun tangan menangani persoalan tersebut sebelum pencemaran semakin meluas.
“Saya minta OPD terkait, DLH, BWS dan aparat lainnya bisa turun tangan menyelesaikan masalah ini. Mau pakai cara apa pun, yang jelas mereka yang membuat masalah harus menyelesaikan,” ujarnya.
Andriansyah mengingatkan bahwa dampak pencemaran lingkungan bisa menimbulkan persoalan serius apabila tidak ditangani dengan cepat, termasuk gangguan kesehatan masyarakat dan kerusakan ekosistem sungai.
“Kita minta aparat terkait segera bertindak, jangan cuek. Ini masalah lingkungan, dampaknya bisa dirasakan semua. Kalau banyak yang sakit karena pencemaran, kita semua juga yang repot,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda, Suwarso, memastikan pihaknya telah menerjunkan tim ke lapangan untuk melakukan penanganan awal terhadap tumpahan CPO tersebut.
“Tim kami sudah turun ke lapangan untuk menangani tumpahan CPO ini,” katanya.
Menurut Suwarso, penanganan dilakukan bersama sejumlah pihak terkait guna mencegah pencemaran semakin meluas ke aliran Sungai Karang Mumus.
Ia juga menyebut pihaknya saat ini berkoordinasi dengan aparat penegak hukum terkait kemungkinan proses hukum terhadap pihak yang bertanggung jawab atas insiden tersebut.
“Di lokasi juga ada tim Tipiter dari Polresta Samarinda, jadi untuk penegakan hukumnya kami akan saling berkoordinasi,” tutupnya.
Hingga kini, petugas masih melakukan upaya penanganan dan pemantauan di sejumlah titik drainase yang terdampak tumpahan CPO. Pemerintah juga berupaya memastikan minyak sawit yang masuk ke saluran air tidak semakin meluas ke kawasan sungai dan lingkungan permukiman warga. (SIK)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id
