Samarinda, Kaltimetam.id – Kematian seorang siswa SMK di Samarinda yang dikaitkan dengan kondisi sepatu kekecilan hingga dugaan infeksi memicu perhatian publik.
Kasus ini menjadi sorotan karena disebut berawal dari luka di kaki yang terus memburuk, di tengah keterbatasan ekonomi keluarga.
Peristiwa tersebut tidak hanya menyisakan duka, tetapi juga membuka pertanyaan soal akses bantuan pendidikan dan sejauh mana sekolah mengetahui kondisi siswanya, terutama ketika kebutuhan dasar seperti perlengkapan sekolah tidak terpenuhi.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalimantan Timur, Armin, menegaskan bahwa persoalan seperti sepatu yang tidak layak pakai seharusnya bisa diatasi lebih awal jika ada komunikasi yang berjalan baik.
Disampaikannya, berbagai skema bantuan sebenarnya telah tersedia dan dapat dimanfaatkan oleh siswa yang membutuhkan, baik melalui sekolah maupun pemerintah.
“Kalau memang sepatunya kekecilan, mestinya disampaikan. Sampaikan ke sekolah, ke orang tua. Kan ada bantuan seperti PIP, BOSDA, dan BOSNAS,” tutur Armin, Sabtu (2/4/2026).
Armin menjelaskan, dalam kasus yang bersifat individual, bantuan seharusnya dapat diberikan dengan cepat.
Ia menilai tidak ada alasan bagi siswa untuk tidak mendapatkan perlengkapan dasar jika informasi tersebut sampai ke pihak yang berwenang.
Ia juga menyoroti pentingnya peran orang tua dalam menyampaikan kondisi anak, agar penanganan dapat dilakukan sebelum berdampak lebih jauh.
“Kalau hanya satu dua anak, mestinya kita bisa bantu. Tapi kan persoalannya ada komunikasi atau tidak dari orang tua,” katanya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pihaknya terbuka bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan, termasuk jika ada siswa yang kesulitan bersekolah karena keterbatasan ekonomi.
Armin bahkan menyatakan kesiapannya untuk membantu secara langsung apabila ada laporan yang masuk ke dinas.
“Saya pun siap membantu kalau dia datang, bilang ‘Pak, anak saya tidak punya sepatu, tidak bisa sekolah’. Sayang sekali kalau anak seperti itu dibiarkan,” tegasnya.
Ia juga menyayangkan apabila masih ada siswa di Kalimantan Timur yang menghadapi hambatan pendidikan hanya karena persoalan dasar seperti sepatu atau pakaian sekolah.
Menurutnya, kondisi tersebut seharusnya tidak terjadi jika sistem bantuan berjalan optimal dan responsif.
“Sangat kita sesalkan kalau ada anak hanya gara-gara sepatu tidak sekolah, hanya gara-gara baju tidak sekolah. Mau kelas 10, kelas 2, kelas 3, kita bantu kok,” ungkapnya.
Di sisi lain, Armin menekankan bahwa sekolah memiliki tanggung jawab untuk mengetahui kondisi siswa secara menyeluruh, tidak hanya dari sisi akademik tetapi juga latar belakang sosial dan ekonomi.
Ia menyebut, peran guru bimbingan konseling (BK) dan wali kelas menjadi kunci dalam mendeteksi persoalan yang mungkin tidak disampaikan secara langsung oleh siswa.
“Sekolah harus betul-betul tahu kondisi anaknya. Itu tugas guru BK dan wali kelas, jangan sampai tidak tahu,” ujarnya.
Menurutnya, sekolah harus menjadi ruang yang aman bagi siswa untuk terbuka, sehingga setiap persoalan dapat segera ditangani sebelum berkembang menjadi lebih serius.
Pendekatan ini dinilai penting agar kasus serupa tidak kembali terjadi di kemudian hari.
“Sekolah itu harus jadi second home. Anak harus nyaman dan bisa curhat kepada gurunya atau ke sekolah,” ujar Armin.
Selain itu, Armin memastikan bahwa sekolah memiliki fleksibilitas dalam penggunaan anggaran untuk membantu siswa yang membutuhkan, melalui berbagai sumber pendanaan yang tersedia.
Ia menegaskan, dukungan tersebut seharusnya cukup untuk menangani kasus-kasus terbatas jika direspons dengan cepat.
“Sekolah punya dana, apakah BOSNAS, BOSDA, atau PIP. Kalau hanya satu dua anak, masa tidak bisa dibantu,” jelasnya.
Di akhir, Armin kembali menekankan pentingnya komunikasi sebagai kunci utama agar bantuan dapat tersalurkan dengan tepat dan cepat.
Ia juga mengingatkan bahwa setiap pihak harus aktif berkoordinasi, baik orang tua, sekolah, maupun pemerintah.
“Kalau tidak bisa curhat ke sekolah, datang ke dinas. Saya bantu, bahkan secara pribadi juga saya siap bantu,” demikian Armin. (REE)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id







