Samarinda, Kaltimetam.id – Pengoperasian insinerator sebagai solusi pengolahan sampah di Kota Samarinda ternyata belum berjalan optimal. Sejumlah kendala teknis hingga aspek keselamatan kerja masih menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dibenahi.
Di salah satu titik operasional di Jalan Wanyi, Kecamatan Samarinda Utara, fasilitas insinerator saat ini masih berada dalam tahap uji coba.
Para petugas pun masih menjalani pelatihan untuk mengoperasikan mesin, mulai dari proses pemilahan hingga teknik pembakaran.
“Ini masih tahap training. Kami belajar dari awal, mulai dari pemilahan sampah kering sampai cara memasukkan ke tungku,” ujar Kepala Tim Insinerator Jalan Wanyi, Utha, Kamis (16/4/2026).
Namun di lapangan, persoalan utama justru datang dari kondisi sampah yang belum terkelola dengan baik sejak awal.
Sampah yang diangkut dari Tempat Penampungan Sementara (TPS) masih dalam kondisi tercampur antara basah dan kering, sehingga menghambat proses pembakaran.
“Suhu mesin sekarang di kisaran 500 sampai 700 derajat. Itu cukup untuk sampah kering, tapi belum maksimal kalau sampahnya masih basah,” jelas Utha.
Kondisi tersebut membuat proses pembakaran tidak efisien dan berpotensi mengurangi kinerja insinerator sebagai alternatif pengolahan sampah.
Padahal, pemilahan menjadi kunci utama agar teknologi ini bisa bekerja secara maksimal.
Di sisi lain, perhatian juga tertuju pada perlindungan pekerja. Hingga saat ini, ketersediaan Alat Pelindung Diri (APD) bagi petugas insinerator belum sepenuhnya terpenuhi, meski mereka bekerja langsung di area berisiko tinggi.
Menanggapi hal itu, Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Samarinda, Muhammad Taufiq Fajar, memastikan pemerintah tengah melakukan pengadaan secara bertahap.
“Target kami bulan Mei semua petugas sudah dilengkapi APD lengkap, mulai dari seragam, sepatu, sarung tangan, masker respirator sampai pelindung wajah dan helm,” terangnya.
Selain penguatan fasilitas, DLH juga tengah merancang perbaikan sistem dari hulu, khususnya terkait pemilahan sampah di tingkat TPS.
Langkah ini dinilai krusial untuk mendukung efektivitas kinerja insinerator ke depan.
“Kami ingin sampah yang masuk ke mesin sudah terpilah. Kalau itu tercapai, proses pembakaran akan lebih cepat dan efisien,” demikian Taufiq. (REE)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id
