Gedung Baru Tanpa Meja Kursi, Siswa SDN 013 Sambutan Terpaksa Lesehan dan Bawa Meja Sendiri

Siswa SDN 013 Sambutan mengikuti pelajaran dengan duduk di lantai dan menggunakan meja lipat, menyusul belum tersedianya meja dan kursi di kelas baru. (Foto: Ree/Kaltimetam.id)

Samarinda, Kaltimetam.id – Upaya peningkatan fasilitas pendidikan di SDN 013 Sambutan, Samarinda, belum sepenuhnya berjalan mulus.

Meski bangunan ruang kelas baru sudah rampung, kegiatan belajar di dalamnya belum didukung fasilitas dasar seperti meja dan kursi.

Kondisi ini membuat para siswa harus belajar dengan cara lesehan. Bahkan, sebagian di antaranya membawa meja lipat sendiri dari rumah agar tetap bisa menulis dengan lebih nyaman saat mengikuti pelajaran.

Situasi tersebut terjadi di tengah penambahan ruang kelas baru yang sejatinya ditujukan untuk menunjang kegiatan belajar mengajar. Namun, karena meubel belum tersedia, pemanfaatannya menjadi belum optimal.

Kepala Seksi Kelembagaan dan Sarana Prasarana SD Disdikbud Samarinda, Amelia Indah Larasati, menjelaskan bahwa pembangunan ruang kelas baru di SDN 013 Sambutan telah selesai pada tahun 2025 dan diserahterimakan pada Maret.

Sejak awal, pihaknya sudah mengingatkan agar ruangan tersebut belum digunakan sampai perlengkapan pendukungnya tersedia.

Apalagi sebelumnya sekolah memang sudah menerapkan sistem dua shift untuk mengakomodasi kebutuhan ruang belajar.

“Pembangunannya di tahun 2025 sudah selesai, dan kita sudah sampaikan ke kepala sekolah agar jangan digunakan dulu. Karena sebelumnya kan ada dua shift di SD 13 Sambutan, jadi kita berharap masih menggunakan ruangan lama dengan sistem dua shift sambil menunggu meubelnya tersedia,” jelas Amelia, Kamis (4/6/2026).

Ia menyebut, pengadaan meja dan kursi baru direncanakan pada tahun 2026 melalui dana bantuan keuangan (Bankeu) yang saat ini masih dalam proses.

Di sisi lain, pihak Disdikbud juga telah memanggil kepala sekolah guna meminta penjelasan terkait penggunaan ruang kelas baru tersebut.

“Hari ini kami juga memanggil kepala sekolah untuk meminta klarifikasinya. Insya Allah meubel di SD 13 Sambutan akan diadakan tahun ini, tetapi masih dalam proses karena dana Bankeu memang belum berjalan,” ujarnya.

Amelia menambahkan, kondisi keterbatasan meubel tidak hanya terjadi di SDN 013 Sambutan. Sejumlah sekolah lain juga mengalami hal serupa karena pengadaan dilakukan secara bertahap sesuai usulan yang telah diajukan.

“Bankeu ini bukan cuma di SD 13 Sambutan. Ada juga sekolah lain yang ruang kelasnya belum tersedia meubelnya. Pengadaan dilakukan berdasarkan proposal yang sudah diajukan, dan semuanya sedang kita upayakan agar bisa terealisasi secepatnya,” ungkapnya.

Terkait kekhawatiran orang tua soal kesehatan siswa yang harus duduk di lantai, pihaknya menegaskan tetap mengacu pada rekomendasi awal, yakni tidak menggunakan ruang baru untuk sementara waktu.

“Karena rekomendasinya dari Dinas Pendidikan, termasuk dari BPK, itu tidak digunakan dulu. Tetap menggunakan sistem dua shift,” tegasnya.

Dengan kondisi tersebut, Disdikbud kembali menekankan bahwa solusi sementara yang disarankan adalah tetap menjalankan sistem dua shift menggunakan ruang lama, sambil menunggu fasilitas di ruang baru benar-benar siap digunakan.

“Jadi memang kita minta tetap dua shift, pagi dan siang, karena ruang baru ini sifatnya penambahan dan memang belum ada meubelnya. Kita upayakan tahun ini bisa terealisasi melalui Bankeu,” demikian Amelia. (REE)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id

Exit mobile version