Samarinda, Kaltimetam.id – Proyek pembangunan SD Negeri 010 Palaran yang sempat tersendat kini kembali dilanjutkan. Pemerintah Kota Samarinda menargetkan penyelesaian empat ruang kelas yang belum terbangun dapat dituntaskan pada tahun ini, setelah sebelumnya terkendala persoalan teknis pada tahap awal konstruksi.
Selama proses pembangunan belum rampung, ratusan siswa masih harus menjalani aktivitas belajar di tempat lain. Sekitar 300 siswa SDN 010 Palaran saat ini berbagi ruang dengan SDN 024 Palaran, sehingga kegiatan belajar mengajar dilakukan secara bergiliran dan belum berjalan secara maksimal.
Kepala Seksi Kelembagaan dan Sarana Prasarana SD Disdikbud Samarinda, Amelia Indah Larasati, menjelaskan bahwa pembangunan sekolah yang dimulai pada 2025 awalnya direncanakan selesai dalam satu tahap. Namun kondisi tanah di lokasi proyek memaksa adanya penyesuaian di tengah proses pekerjaan.
Saat pengerjaan berlangsung, kebutuhan kedalaman tiang pancang ternyata melebihi perhitungan awal.
Hal ini berdampak pada alokasi anggaran yang lebih banyak terserap untuk pekerjaan fondasi, sehingga pembangunan fisik tidak dapat diselesaikan sepenuhnya.
“Pada saat pengerjaan di lapangan ternyata ada koreksi di bagian pancang. Karena itu kami melakukan perubahan pekerjaan sehingga ada empat ruang kelas yang belum terbangunkan,” jelas Amelia.
Meski demikian, kelanjutan pembangunan telah dipastikan masuk dalam rencana tahun anggaran 2026.
Pemerintah menyiapkan tambahan anggaran sekitar Rp2,3 miliar untuk merampungkan ruang kelas yang tersisa, termasuk pembangunan pagar dan penataan halaman sekolah.
“Insyaallah tahun ini kita selesaikan. Empat ruang kelas itu, kemudian pagar sekolah dan halaman juga akan dikerjakan,” katanya.
Jika target tersebut terealisasi, siswa SDN 010 Palaran diharapkan bisa kembali belajar di lingkungan sekolah sendiri tanpa harus berbagi ruang dengan sekolah lain.
Sebelumnya, Kepala SDN 010 Palaran Sarti menyampaikan bahwa keterbatasan ruang membuat pihak sekolah terpaksa meminjam fasilitas SDN 024 Palaran.
Dari total kebutuhan 12 ruang kelas, jumlah yang tersedia saat ini belum mencukupi, sehingga sebagian siswa harus mengikuti kegiatan belajar pada siang hingga sore hari.
Di tengah upaya penyelesaian pembangunan fisik, kebutuhan fasilitas pendukung juga mulai menjadi perhatian.
Meja dan kursi yang digunakan saat ini sebagian sudah mengalami kerusakan, baik karena usia pakai maupun dampak dari proses pemindahan selama pembangunan berlangsung.
Amelia menyebut pengadaan meubel belum masuk dalam alokasi tambahan anggaran tahun ini.
Meski demikian, kebutuhan tersebut sudah didata dan akan menjadi prioritas dalam pengajuan anggaran berikutnya.
“Untuk meubel memang belum masuk. Saat ini masih menggunakan yang lama dulu. Tapi kebutuhan itu sudah kami inventarisasi dan menjadi prioritas berikutnya.” pungkas Amelia. (REE)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id
