Samarinda, Kaltimetam.id – Kinerja tiga Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kota Samarinda sepanjang tahun buku 2025 menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan. Secara akumulatif, ketiganya berhasil mencatatkan laba hingga puluhan miliar rupiah.
Namun demikian, keuntungan tersebut belum serta-merta masuk ke kas daerah karena masih dalam tahap pembahasan.
Pemerintah Kota Samarinda melalui Bagian Ekonomi Setda masih melakukan kajian sebelum menentukan besaran kontribusi dividen yang akan disetorkan sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Penilaian ini tidak hanya didasarkan pada angka keuntungan, tetapi juga mempertimbangkan kondisi kesehatan keuangan masing-masing perusahaan.
Kepala Bagian Ekonomi Setda Samarinda, Nadya Turisna, menyampaikan bahwa data laba tersebut berasal dari laporan keuangan yang telah diaudit.
“Kalau dari laporan keuangan yang sudah selesai diaudit, laba PDAM sekitar Rp53,6 miliar, Varia Niaga Rp10,1 miliar, dan BPR sekitar Rp2,7 miliar,” ujar Nadya, Jum’at kemarin (5/6/2026).
Dari angka tersebut, Perumdam Tirta Kencana menjadi penyumbang laba terbesar dengan nilai mencapai Rp53,678 miliar. Disusul Perumda Varia Niaga sebesar Rp10,123 miliar dan PT BPR Samarinda sekitar Rp2,742 miliar.
Meski mencatatkan keuntungan, penetapan besaran dividen yang akan disetor ke daerah masih menunggu pembahasan bersama Kuasa Pemilik Modal (KPM), yakni Wali Kota Samarinda.
Hal ini dilakukan untuk memastikan keputusan yang diambil tidak mengganggu stabilitas keuangan perusahaan.
“Belum bisa langsung ditentukan karena harus dibahas dulu bersama KPM. Ada perusahaan yang memang laba, tetapi masih memiliki kewajiban yang perlu diselesaikan,” jelasnya.
Nadya menilai, capaian tersebut mencerminkan tren positif dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Salah satu perkembangan yang cukup mencolok terjadi pada PT BPR Samarinda yang akhirnya mampu mencatatkan laba setelah sekian lama berada dalam kondisi merugi.
“Kalau BPR ini baru sekarang bisa menghasilkan laba setelah hampir dua dekade. Dari sisi kesehatan perusahaan juga semakin baik,” katanya.
Hal serupa juga terlihat pada Perumda Varia Niaga yang terus melakukan ekspansi usaha.
Jika sebelumnya hanya mengelola tiga unit bisnis, kini jumlahnya telah berkembang menjadi delapan unit usaha yang seluruhnya memberikan kontribusi keuntungan.
Menurut Nadya, peningkatan kinerja ini tidak terlepas dari dorongan efisiensi yang selama ini diterapkan di lingkungan BUMD oleh Pemerintah Kota Samarinda.
“Pak Wali selalu menekankan operasional harus efisien. Belanja pegawai jangan terlalu besar, kegiatan yang tidak terlalu penting juga harus ditekan. Jadi perusahaan bisa lebih sehat,” ujarnya.
Sementara itu, Perumdam Tirta Kencana tetap menjadi penyumbang laba terbesar meski nilainya sedikit mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Kondisi ini dipengaruhi oleh investasi pada pembangunan infrastruktur perpipaan yang belum sepenuhnya memberikan dampak ekonomi dalam jangka pendek.
Dengan capaian laba yang cukup besar, Pemkot Samarinda tetap berhati-hati dalam menentukan besaran setoran ke PAD. Pemerintah ingin menjaga keseimbangan antara kontribusi terhadap daerah dan keberlanjutan usaha masing-masing BUMD.
“Jangan sampai semua laba disetor ke PAD, tapi kemudian perusahaan kembali kesulitan. Prinsipnya harus seimbang, perusahaan tetap sehat dan PAD juga tetap bertambah,” tegas Nadya.
Selain itu, sebagian laba dari BPR dan Varia Niaga juga masih diarahkan untuk menyelesaikan kewajiban masa lalu yang selama ini menjadi beban perusahaan.
“Pak Wali ingin persoalan-persoalan lama itu diselesaikan pelan-pelan. Jadi tidak meninggalkan masalah untuk ke depan, tetapi juga memastikan kinerja perusahaan terus meningkat.” pungkasnya. (REE)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id







