Samarinda, Kaltimetam.id – Suasana menjelang aksi unjuk rasa besar di Gedung DPRD Kalimantan Timur, Senin (1/9/2025), semakin memanas setelah aparat kepolisian mengungkap rencana anarkis yang melibatkan puluhan bom molotov. Penggerebekan yang dilakukan di lingkungan Universitas Mulawarman (Unmul) itu mengejutkan banyak pihak karena menyingkap adanya indikasi keterlibatan sejumlah mahasiswa.
Kapolresta Samarinda, Kombes Pol Hendri Umar menegaskan bahwa operasi pengamanan tersebut merupakan bagian dari langkah preventif guna memastikan stabilitas keamanan di ibu kota provinsi.
“Kami melakukan penggerebekan di lingkungan kampus dan menemukan puluhan bom molotov siap pakai. Ini indikasi kuat adanya rencana yang bisa mengancam ketertiban umum,” ujarnya.
Dalam operasi yang berlangsung Minggu (31/8) malam, polisi berhasil menyita 27 botol bom molotov, dua buah petasan, gunting, kain perca, serta atribut bergambar Partai Komunis Indonesia (PKI). Barang bukti itu ditemukan di salah satu sekretariat mahasiswa di kawasan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unmul.
Dari hasil penyelidikan awal, polisi menduga ada pembagian peran di antara para mahasiswa, mulai dari proses merakit, menyimpan, hingga menutupi keberadaan bahan peledak rakitan tersebut.
“Dari keterangan sementara, setiap orang punya peran. Ada yang bertugas merakit, ada yang menyembunyikan, dan ada pula yang berjaga. Namun, ini masih akan kami dalami,” kata Hendri Umar.
Penggerebekan itu membuat aparat mengamankan sejumlah mahasiswa untuk dimintai keterangan. Sebanyak 14 mahasiswa yang sempat ditahan akhirnya dipulangkan ke pihak kampus setelah interogasi tidak menemukan bukti keterlibatan langsung.
“Siang tadi 14 orang mahasiswa kami serahkan kembali ke pihak Universitas Mulawarman. Dari hasil wawancara dan interogasi, tidak ada bukti kuat bahwa mereka terlibat dalam perakitan bom. Namun, saat penangkapan mereka berada di lokasi sekretariat, sehingga demi kepentingan penyelidikan semua diamankan lebih dulu,” jelasnya.
Dalam proses pemulangan, pihak kampus melalui perwakilan FKIP Prodi Sejarah Unmul turut hadir mendampingi mahasiswa. Kampus menegaskan mendukung langkah kepolisian dalam mengusut tuntas kasus ini demi menjaga nama baik universitas.
Pihak universitas juga menekankan bahwa mereka akan memperketat pengawasan aktivitas mahasiswa agar kampus tidak dijadikan sarana penyimpanan atau perencanaan kegiatan ilegal.
Meski 14 mahasiswa sudah dipulangkan, kepolisian menegaskan bahwa penyelidikan akan terus berlanjut. Aparat menduga ada pihak lain yang menjadi aktor intelektual di balik perencanaan aksi anarkis tersebut.
“Kami tidak berhenti sampai di sini. Penyelidikan masih berjalan untuk mengungkap siapa sebenarnya dalang dari semua ini. Kami akan telusuri apakah ada pihak eksternal yang memanfaatkan mahasiswa,” tegasnya.
Kombes Pol Hendri Umar menegaskan, pihaknya tidak akan mentolerir segala bentuk provokasi maupun upaya yang berpotensi menimbulkan kericuhan di masyarakat.
“Kami hadir untuk memastikan bahwa aksi penyampaian pendapat tetap berjalan damai, tidak berujung pada kekerasan maupun tindakan melawan hukum,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa kepolisian mendukung kebebasan berpendapat, namun tidak dengan cara-cara yang membahayakan keselamatan orang banyak.
“Demonstrasi adalah hak, tetapi membawa bom molotov jelas bukan cara yang bisa dibenarkan,” pungkasnya. (SIK)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id







