Samarinda, Kaltimetam.id – Di balik keputusan tegas Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) menyegel kantor operasional Maxim di Samarinda, ada ratusan keluarga yang mendadak kehilangan sumber nafkah. Rabu (20/8/2025), para driver ojek online yang tergabung dalam Gabungan Mitra Cakrawala akhirnya turun ke jalan, memohon agar kantor tempat mereka biasa menyelesaikan masalah akun kembali dibuka.
Sejak pagi, mereka memadati area depan Kantor Gubernur Kaltim. Suara knalpot pick-up dan teriakan tuntutan bergema memecah udara Samarinda yang diguyur hujan deras. Di bawah terpal seadanya, para driver berjuang menyuarakan kepedihan mereka kepada para pengambil kebijakan.
Ali (47), seorang ayah dengan empat anak, berdiri di barisan depan. Akunnya tidak bermasalah, tapi ia tetap ikut demo. Alasannya sederhana, ialah solidaritas.
“Kalau saya bukan cari nama, bukan cari apa, kita solidaritas piring nasi aja. Kalau saya menurut ego, saya gak akan duduk di sini, akun saya bagus, saya mau narik bisa, tapi gimana dengan teman-teman saya yang akunnya terblokir?” ujarnya.
Ali sudah lima tahun bekerja sebagai driver Maxim. Ia masih ingat bagaimana pada 2020–2021 pendapatan dari profesi ini cukup lumayan, bisa Rp200–300 ribu per hari. Kini, untuk mendapat Rp100 ribu saja sulit.
“Nggak nentu untuk sekarang ini, kalau dulu 2020 sampai 2021. okelah kita akui kalau 200-300 itu gampang, sekarang ini 100 aja agak susah,” keluhnya.
Bagi Ali dan rekan-rekannya, penyegelan kantor Maxim bukan sekadar penegakan aturan. Keputusan ini merembet langsung ke dapur mereka. Para driver dengan akun terblokir tidak bisa mengurus permasalahan karena kantor tertutup rapat.
“Karena kami demo ini untuk minta buka kantor itu saja, untuk teman-teman buat buka akunnya saja,” tegas Ali. (REE)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id







