Gabus Terlepas di Tengah Air, Anak Dilaporkan Tenggelam Saat Bermain di Folder Jalan Sultan Sulaiman

proses pencarian korban tenggelam oleh relawan gabungan dan di bantu warga. (Foto: Siko/Kaltimetam.id)

Samarinda, Kaltimetam.id – Peristiwa tragis kembali terjadi di Kota Tepian. Seorang anak dilaporkan tenggelam di kawasan folder atau tampungan air di Jalan Sultan Sulaiman, Pelita 3, Kecamatan Sambutan, Kota Samarinda, pada Senin (20/4/2026) petang. Hingga malam hari, tim gabungan masih melakukan upaya pencarian terhadap korban.

Informasi awal mengenai kejadian tersebut diterima Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda sekitar pukul 19.08 WITA. Laporan disampaikan oleh warga melalui Posko Satria Sambutan yang kemudian langsung ditindaklanjuti oleh petugas.

Petugas TRC BPBD Samarinda, Muhlidin, mengatakan pihaknya segera menuju lokasi begitu menerima laporan adanya dugaan anak tenggelam. Berdasarkan informasi yang dihimpun, korban diketahui bernama Aska Ardendra Pratama.

“Ada laporan masyarakat yang masuk terkait dugaan anak tenggelam di kawasan Jalan Sultan Sulaiman, Pelita 3. Setelah itu kami langsung bergerak ke lokasi untuk melakukan pencarian,” ujarnya.

Dari keterangan sementara, peristiwa bermula sejak sore hari sekitar pukul 15.00 WITA. Saat itu, enam orang anak terlihat bermain di sekitar lokasi yang merupakan area tampungan air atau folder. Aktivitas mereka kemudian berlanjut dengan mandi dan berenang di lokasi tersebut.

Sekitar pukul 16.30 WITA, korban datang menyusul dan ikut bergabung bersama teman-temannya. Saat berenang, korban menggunakan potongan gabus putih yang dijepitkan di ketiak sebagai alat bantu mengapung.

Namun, kondisi mulai berubah ketika korban bergerak ke arah bagian tengah folder yang memiliki kedalaman lebih tinggi. Meski sempat diperingatkan oleh teman-temannya agar tidak berenang terlalu jauh, korban tetap melanjutkan aktivitasnya.

“Menurut keterangan saksi, korban sempat diingatkan karena bagian tengah itu dalam. Tapi korban tetap maju. Saat di tengah, gabus yang digunakan terlepas, dan setelah itu korban tidak terlihat lagi,” jelasnya.

Kepanikan pun terjadi di antara anak-anak yang berada di lokasi. Mereka kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada warga sekitar hingga akhirnya diteruskan ke pihak berwenang.

Muhlidin menyebutkan, berdasarkan informasi yang diterima, korban sebenarnya diketahui bisa berenang. Namun, kondisi kedalaman air serta minimnya perlengkapan keselamatan diduga menjadi faktor yang memperbesar risiko tenggelam.

Selain itu, ia menegaskan bahwa lokasi tersebut bukanlah area yang diperuntukkan untuk aktivitas masyarakat, terutama anak-anak. Kawasan tersebut diketahui merupakan bagian dari pematangan lahan yang memiliki potensi bahaya.

“Ini area terbatas dan tidak diperkenankan untuk aktivitas umum. Apalagi untuk anak-anak, karena sangat berisiko,” pungkasnya.

Hingga malam hari, tim gabungan yang terdiri dari BPBD, relawan, dan unsur terkait lainnya masih melakukan pencarian di sekitar lokasi kejadian. Upaya pencarian dilakukan dengan menyisir area permukaan air hingga titik-titik yang diduga menjadi lokasi korban terakhir terlihat.

Peristiwa ini kembali menjadi pengingat bagi masyarakat, khususnya orang tua, untuk meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas anak-anak, terutama di kawasan yang berpotensi membahayakan. (SIK)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id

Exit mobile version