Samarinda, Kaltimetam.id – Polemik dugaan kelalaian medis terhadap bayi berusia tiga bulan di RSUD Abdul Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda terus bergulir. Pihak keluarga melalui kuasa hukum menyampaikan klarifikasi sekaligus bantahan atas berbagai pernyataan yang dinilai menyudutkan orang tua pasien.
Kuasa hukum keluarga, Sudirman, menegaskan bahwa pihaknya hadir untuk meluruskan informasi yang berkembang, terutama setelah adanya inspeksi mendadak (sidak) oleh anggota dewan yang justru memunculkan polemik baru.
“Hadirnya kami di sini untuk memberikan klarifikasi. Banyak statement yang seharusnya menenangkan, justru membuat keluarga yang sudah terluka menjadi semakin tersudut,” ujarnya.
Menurut Sudirman, peristiwa bermula saat bayi tersebut menjalani perawatan di RSUD AWS karena mengalami diare atau muntaber. Pada awalnya, pihak rumah sakit disebut menyampaikan bahwa kondisi pasien akan ditangani secara intensif hingga pulih.
Namun, dua hari setelah pernyataan tersebut, tepatnya pada Kamis, pihak keluarga justru diminta untuk membawa pulang bayi tersebut.
“Ibu pasien saat itu disuruh pulang oleh pihak rumah sakit. Padahal sebelumnya disampaikan akan dirawat secara penuh,” jelasnya.
Sebelum pulang, ibu bayi sempat menanyakan perihal perawatan luka yang telah diperban. Namun, menurut Sudirman, perawat menyarankan agar perban tidak dibuka dan nantinya akan dibersihkan saat kontrol kembali di rumah sakit.
Selain itu, keluarga juga mengaku mendapat informasi bahwa jadwal kontrol dilakukan pada hari Selasa.
“Jadi keluarga berpegang pada informasi itu. Tidak mungkin mereka membuka perban sendiri karena dilarang oleh perawat,” katanya.
Selama di rumah, keluarga mulai mencium bau tidak sedap dari luka bayi. Hingga akhirnya pada hari Minggu, perban dibuka dan ditemukan kondisi luka yang disebut telah membusuk.
“Ini yang menjadi titik krusial. Ketika dibuka, luka sudah dalam kondisi memburuk,” tegas Sudirman.
Sudirman juga membantah keras tudingan bahwa keluarga lalai atau terlambat membawa anak ke rumah sakit. Ia menilai narasi tersebut tidak berdasar dan menyudutkan pihak orang tua.
“Kenapa ada miss tanggal 16 dan 17? Karena keluarga mengikuti arahan dari rumah sakit untuk kontrol hari Selasa. Ini harus dilihat secara utuh, bukan disimpulkan sepihak,” tuturnya.
Ia juga menyinggung pernyataan dari sejumlah pihak, termasuk anggota dewan dan dinas kesehatan, yang menyebut adanya keterlambatan dari keluarga.
“Tidak perlu membuat narasi seolah-olah ini kesalahan keluarga. Itu keliru,” tegasnya.
Lebih jauh, Sudirman menyinggung kemungkinan adanya unsur malpraktik dalam kasus tersebut. Ia mengutip pernyataan salah satu anggota dewan yang juga berlatar belakang tenaga medis.
“Kalau merujuk pada penjelasan mereka sendiri, salah satu unsur malpraktik adalah adanya kerugian yang dialami pasien. Sekarang, apakah kondisi ini tidak menimbulkan kerugian?” katanya.
Meski demikian, pihaknya menegaskan bahwa penilaian akhir tetap menunggu hasil audit medis yang dijanjikan oleh pihak rumah sakit.
“Kami minta audit dilakukan secara terbuka. Kalau salah, katakan salah, lalu diperbaiki,” ujarnya.
Lanjut, Sudirman juga mengingatkan agar seluruh pihak tidak lagi memperkeruh suasana dengan pernyataan yang memicu polemik.
“Fokus kita seharusnya pada pemulihan pasien. Jangan membuat keluarga semakin tertekan dengan statement yang tidak perlu,” katanya.
Ia juga menilai permintaan maaf dari pihak rumah sakit seharusnya bisa menjadi langkah awal meredakan situasi.
“Apa sulitnya menyampaikan permohonan maaf? Ini soal kemanusiaan,” tutupnya.
Sementara itu, ibu bayi, Ravita, mengaku sangat kecewa dengan pernyataan yang menyudutkan dirinya, terutama terkait tudingan lalai membawa anaknya berobat.
“Saya ini seorang ibu, tidak mungkin menelantarkan anak saya. Saya hanya mengikuti apa yang disampaikan perawat,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa dirinya datang ke rumah sakit sesuai jadwal yang diberikan, yakni hari Selasa. Ia juga membantah alasan keterlambatan karena faktor transportasi.
“Sekarang ini sudah banyak transportasi. Kalau saya tahu harus hari Senin, pasti saya datang hari Senin,” tegasnya.
Ravita juga mengungkapkan bahwa dirinya sempat trauma, sehingga menolak dilakukan visum terhadap anaknya.
“Saya pernah kehilangan anak. Saya tidak mau kejadian itu terulang,” pungkasnya. (SIK)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id







