Samarinda, Kaltimetam.id – Meningkatnya kebutuhan rumah tangga menjelang Hari Raya Idulfitri memicu lonjakan permintaan gas LPG 3 kilogram di sejumlah wilayah Kota Samarinda.
Kondisi ini berdampak pada sulitnya masyarakat mendapatkan gas bersubsidi tersebut, sekaligus mendorong kenaikan harga di tingkat pengecer.
Dalam beberapa hari terakhir, keluhan warga bermunculan terkait kelangkaan gas melon, terutama di kawasan permukiman seperti Jalan Suryanata, Makroman, Lempake, Jalan Pramuka, hingga Sungai Dama.
Di sejumlah titik, warga bahkan harus berkeliling untuk mencari tabung gas yang masih tersedia.
Hasil penelusuran di lapangan menunjukkan oleh Kaltimetam.id, selain stok yang terbatas, harga jual LPG 3 kilogram di tingkat eceran juga mengalami lonjakan signifikan.
Jika pada hari biasa harga berkisar di angka Rp30 ribu per tabung, saat ini melonjak hingga Rp35 ribu sampai Rp40 ribu.
Seorang penjual eceran di kawasan Jalan Suryanata, Awana, mengungkapkan peningkatan permintaan terjadi cukup drastis sejak memasuki pertengahan Ramadan.
Kondisi tersebut membuat stok yang tersedia cepat habis dalam waktu singkat.
“Biasanya sekitar Rp30 ribu, sekarang bisa sampai Rp35 ribu sampai Rp38 ribu. Orang cari gas lagi banyak, kami ambil dari Sanga-Sanga, tapi kalau dapat 20 tabung sehari saja sudah langsung habis,” ujarnya, Kamis (19/3/2026).
Ia menyebut, keterbatasan pasokan dari distributor turut memengaruhi kondisi di tingkat pengecer.
Di sisi lain, permintaan masyarakat yang meningkat menjelang Lebaran membuat distribusi gas menjadi tidak seimbang.
Fenomena ini turut menjadi perhatian Dinas Perdagangan Kota Samarinda. Kepala Dinas Perdagangan, Nurrahmani, menegaskan bahwa lonjakan harga tersebut umumnya terjadi di luar jalur resmi distribusi, yakni di tingkat pengecer.
“Kalau beli di pangkalan resmi, rasanya tidak mungkin sampai segitu. Gas melon ini kan diperuntukkan bagi masyarakat kurang mampu,” katanya.
Ia menjelaskan, secara umum ketersediaan stok LPG 3 kilogram di pangkalan resmi sebenarnya masih relatif stabil.
Namun, tingginya permintaan masyarakat menjelang Lebaran membuat distribusi di tingkat bawah menjadi tidak merata.
“Stok sebenarnya konstan, tapi permintaan meningkat. Di pengecer itu tidak ada pembatasan, jadi mekanisme pasar yang membuat harga naik,” jelasnya.
Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara harga resmi di pangkalan dengan harga yang diterima masyarakat di tingkat eceran.
Di tengah meningkatnya kebutuhan jelang Lebaran, masyarakat diimbau untuk membeli LPG 3 kilogram di pangkalan resmi agar mendapatkan harga sesuai ketentuan.
Sementara itu, lonjakan permintaan diperkirakan masih akan terus terjadi hingga mendekati hari raya, seiring meningkatnya aktivitas memasak dan persiapan kebutuhan rumah tangga oleh masyarakat. (REE)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id







