BPBD Kaltim Catat 845 Kejadian Bencana Sepanjang 2025, Kerugian Capai Rp40,79 Miliar

Banjir dikawasan Bengkuring Kota Samarinda. (Foto: Siko/Kaltimetam.id)
Banjir dikawasan Bengkuring Kota Samarinda. (Foto: Siko/Kaltimetam.id)

Samarinda, Kaltimetam.id – Provinsi Kalimantan Timur mencatat tahun 2025 sebagai salah satu periode dengan intensitas bencana tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Timur melaporkan sedikitnya 845 kejadian bencana terjadi sejak Januari hingga Desember 2025, dengan total kerugian materiil mencapai Rp40,79 miliar serta dampak kemanusiaan yang signifikan.

Kepala Pelaksana BPBD Kaltim, Buyung Dodi Gunawan, mengungkapkan bahwa bencana yang terjadi didominasi oleh bencana hidrometeorologi, seiring dengan tingginya curah hujan dan anomali cuaca yang melanda wilayah Bumi Etam sepanjang tahun lalu.

“Banjir masih menjadi bencana yang paling sering terjadi, disusul kebakaran permukiman dan tanah longsor. Ini menunjukkan bahwa kerentanan wilayah terhadap bencana hidrometeorologi masih cukup tinggi,” ujarnya.

Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kaltim, banjir tercatat sebanyak 267 kejadian, menjadikannya bencana paling dominan sepanjang 2025. Selanjutnya, kebakaran permukiman terjadi 249 kali, diikuti tanah longsor sebanyak 149 kejadian.

Selain itu, BPBD juga mencatat bencana lain seperti gempa bumi sebanyak 56 kejadian, cuaca ekstrem 42 kejadian, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) 34 kejadian, serta gelombang tinggi dan abrasi masing-masing dua kejadian. Sementara itu, bencana kekeringan tercatat terjadi dua kali selama tahun berjalan.

“Sebaran bencana ini hampir merata di seluruh kabupaten dan kota, dengan karakteristik wilayah yang berbeda-beda,” jelasnya.

Rentetan bencana tersebut membawa dampak besar terhadap masyarakat. BPBD mencatat 78 orang meninggal dunia, 22 orang dinyatakan hilang, serta 55 orang mengalami luka-luka atau sakit akibat bencana. Selain itu, 278 warga terpaksa mengungsi, sementara 161.976 jiwa tercatat terdampak langsung.

Dari sisi infrastruktur, bencana menyebabkan 399.940 unit rumah terendam banjir, 128 kios dan ruko rusak, serta 122 fasilitas umum terdampak. Tak hanya itu, 59 fasilitas pendidikan, 48 perkantoran, dan 38 fasilitas kesehatan juga mengalami kerusakan. Akses transportasi turut terganggu dengan 23,46 kilometer jalan rusak dan 15 jembatan terdampak.

Untuk sektor lingkungan, 333,07 hektare lahan dilaporkan hangus terbakar akibat karhutla sepanjang 2025.

Meski banjir mendominasi sepanjang 2025, BPBD Kaltim mengingatkan adanya peningkatan potensi kebakaran hutan dan lahan di awal 2026. Kondisi cuaca yang lebih panas disertai aktivitas pembukaan lahan oleh masyarakat menjadi faktor utama munculnya titik api.

“Anomali cuaca memang berpengaruh, tetapi faktor manusia masih menjadi penyebab dominan. Aktivitas pembakaran lahan sangat berisiko, terutama saat kondisi kering,” kata Buyung.

Data Pusdalops menunjukkan bahwa titik panas (hotspot) banyak ditemukan di Area Penggunaan Lain (APL) serta lahan milik warga yang sedang dipersiapkan untuk masa tanam. Wilayah Kutai Kartanegara, Penajam Paser Utara (PPU), dan Berau kini masuk dalam kategori daerah paling rawan karhutla.

BPBD Kaltim pun mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan serta menghindari praktik pembakaran lahan. Selain merusak ekosistem, karhutla juga berpotensi mengganggu kualitas udara dan kesehatan masyarakat.

“Kami berharap masyarakat ikut berperan aktif dalam pencegahan. Bencana bukan hanya soal alam, tetapi juga bagaimana perilaku manusia dalam menjaga lingkungannya,” pungkasnya. (SIK)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id