900 Kios Pasar Pagi Menganggur, Disdag Siapkan Distribusi Tahap V

Pasar Pagi Samarinda. (Foto: Ree/Kaltimetam.id)

Samarinda, Kaltimetam.id – Revitalisasi Pasar Pagi Samarinda belum sepenuhnya menunjukkan hasil optimal. Di tengah upaya pemerintah kota menata pusat perdagangan tradisional tersebut, ratusan kios yang telah tersedia masih belum ditempati pedagang.

Kondisi ini menjadi perhatian serius DPRD Kota Samarinda. Pasalnya, dari sekitar 2.400 kios yang disiapkan, baru lebih dari 1.500 unit yang telah terisi. Dengan demikian, masih tersisa sekitar 900 kios yang belum dimanfaatkan.

Belum optimalnya tingkat hunian kios itu dinilai berpotensi menghambat aktivitas perdagangan di kawasan yang digadang-gadang menjadi wajah baru pusat ekonomi rakyat di Samarinda.

Keluhan masyarakat pun mulai bermunculan, terutama terkait lambatnya proses penempatan pedagang.

Ketua Komisi II DPRD Samarinda, Iswandi, menegaskan bahwa pengawasan terhadap distribusi kios harus dilakukan secara terbuka. Menurutnya, transparansi data penerima menjadi kunci untuk memastikan tidak ada penyimpangan dalam proses pembagian lapak.

Selama ini, kata dia, DPRD hanya menerima laporan secara umum tanpa rincian nama penerima. Kondisi tersebut dinilai menyulitkan lembaga legislatif dalam menjalankan fungsi pengawasan secara maksimal.

“Karena itu kita minta data by name, siapa saja yang menerima kios. Dengan begitu, pengawasan bisa dilakukan bersama dan tidak menimbulkan persepsi adanya permainan,” ujar Iswandi usai rapat dengar pendapat dengan Dinas Perdagangan Samarinda, Rabu (29/4/2026).

Selain aspek transparansi, DPRD juga menyoroti pentingnya kepastian waktu bagi pedagang untuk segera menempati kios yang telah diterima.

Menurut Iswandi, tanpa batas waktu yang jelas, pemanfaatan pasar dikhawatirkan akan terus berjalan lambat.

Ia menekankan bahwa pasar yang dibangun menggunakan anggaran besar harus segera berfungsi optimal dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

“Kapan batas akhirnya, lalu apa konsekuensinya jika kios tidak ditempati, itu harus tegas. Jangan sampai fasilitas yang dibangun dari uang rakyat justru tidak dimanfaatkan secara maksimal,” tegasnya.

Iswandi juga mengingatkan bahwa kios Pasar Pagi semestinya diperuntukkan bagi pedagang aktif, bukan pihak yang hanya ingin memiliki aset tanpa menjalankan aktivitas usaha.

“Pasar ini untuk berdagang, bukan untuk investasi. Yang mengisi harus benar-benar pelaku usaha agar pasar hidup dan ramai,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Samarinda, Nurrahmani, menyebut masih kosongnya ratusan kios dipengaruhi sejumlah faktor.

Di antaranya, ada pedagang yang belum siap menempati kios, hingga ada pula yang telah dipanggil namun tidak datang untuk mengambil kunci.

Saat ini, proses distribusi kios masih terus berlangsung dan telah memasuki tahap kelima. Pada tahap ini, Disdag akan kembali mendistribusikan 129 kios kepada pedagang yang telah lolos verifikasi.

Pengundian kios semula dijadwalkan pekan ini, namun diundur karena libur nasional. Proses tersebut akan dilanjutkan pada awal pekan depan, disusul masa pengambilan kunci selama tiga hari.

Disdag juga telah menarik kembali kios yang tidak diambil oleh penerima sebelumnya. Total ada 59 kios yang telah dikembalikan ke pemerintah untuk kemudian dialokasikan kepada pedagang lain yang dinilai lebih siap.

Untuk memastikan kios benar-benar dimanfaatkan, Disdag menerapkan mekanisme teguran bertahap kepada penerima yang belum menempati lapaknya. Jika setelah tiga kali teguran tidak ada tindak lanjut, kios akan ditarik kembali.

“Kalau setelah tiga kali teguran tetap tidak ditempati, maka kios itu kami tarik dan kami serahkan kepada pedagang lain yang siap berjualan,” kata Yama. (REE)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id

Exit mobile version