Samarinda, Kaltimetam.id – Pemerintah Kota Samarinda secara terbuka mengakui bahwa persoalan parkir dan tata kelola transportasi masih menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya terselesaikan.
Wali Kota Samarinda, Andi Harun, menyebut kondisi tersebut sebagai salah satu titik lemah yang saat ini masih dihadapi pemerintah daerah.
“Kalau boleh saya katakan, ini masih menjadi titik lemah dari Pemerintah Kota Samarinda. Saya akui secara jujur itu,” ujarnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa pemerintah terus berupaya melakukan pembenahan secara bertahap, termasuk dengan merancang transformasi sistem transportasi menuju konsep yang lebih modern dan ramah lingkungan.
Salah satu langkah strategis yang kini didorong adalah mengajak para pelaku usaha transportasi untuk beralih dari angkutan berbasis bahan bakar minyak (BBM) ke kendaraan berbasis listrik. Menurutnya, transformasi ini menjadi peluang sekaligus solusi di tengah keterbatasan anggaran pemerintah.
“Saya sudah mengajak teman-teman pengusaha transportasi untuk mulai mentransformasi angkot menjadi angkot listrik,” jelasnya.
Ia mencontohkan beberapa kota besar di Indonesia seperti Bogor dan Jakarta yang telah lebih dulu mengembangkan angkutan umum berbasis listrik. Dengan konsep serupa, Samarinda diharapkan mampu mengikuti arah perkembangan transportasi yang lebih berkelanjutan.
“Kalau ada pengusaha yang ingin beralih, pemerintah siap membantu, termasuk dalam penyusunan trayek di seluruh wilayah kota,” katanya.
Namun, Andi Harun juga mengakui bahwa rencana pengembangan transportasi massal, khususnya berbasis bus, masih menghadapi kendala besar dari sisi anggaran. Harga pengadaan satu unit bus dinilai cukup tinggi, sementara kondisi APBD saat ini masih dalam fase efisiensi.
“Satu bus itu sangat mahal. Kita harus realistis melihat kondisi keuangan daerah, apalagi sekarang banyak daerah mengalami efisiensi,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pemerintah akan melihat peluang pengembangan transportasi massal pada tahun-tahun mendatang, termasuk melalui evaluasi kondisi APBD 2027.
Selain faktor anggaran, kondisi infrastruktur jalan di Samarinda juga menjadi pertimbangan penting. Menurutnya, penggunaan bus berukuran besar belum sepenuhnya sesuai dengan karakteristik jalan yang ada.
“Kalau kita pakai bus besar, jalan kita belum mendukung. Dari sisi panjang kendaraan dan radius putar, itu menjadi kendala,” jelasnya.
Sebagai alternatif, Dinas Perhubungan Samarinda saat ini tengah menyusun kajian terkait penggunaan bus berukuran menengah yang lebih sesuai dengan kondisi jalan di kota tersebut.
Di sisi lain, Andi Harun menegaskan bahwa persoalan parkir tidak hanya berkaitan dengan kebijakan pemerintah, tetapi juga menyangkut perilaku masyarakat. Ia menilai penertiban yang dilakukan selama ini belum akan efektif tanpa adanya perubahan kesadaran dari pengguna jalan.
“Mengubah perilaku itu tidak bisa hanya dibebankan ke pemerintah. Kalau masyarakat tidak berubah, maka masalah ini tidak akan selesai,” tegasnya.
Menurutnya, penggunaan badan jalan sebagai lokasi parkir masih menjadi persoalan klasik yang sulit diatasi jika tidak diiringi kesadaran bersama.
Sebagai langkah pendukung, pemerintah kota juga mendorong gerakan partisipatif masyarakat melalui program gotong royong di tingkat RT dan kelurahan. Program ini dinilai efektif dalam membangun kesadaran kolektif sekaligus menekan biaya operasional pemerintah.
“Sekarang hampir setiap minggu RT dan kelurahan melakukan gotong royong. Ini bagian dari membangun kesadaran masyarakat,” tuturnya.
Program tersebut, lanjutnya, menjadi contoh bagaimana keterlibatan masyarakat dapat membantu menyelesaikan persoalan kota tanpa harus bergantung sepenuhnya pada anggaran pemerintah.
Di tengah berbagai keterbatasan, Andi Harun menegaskan bahwa pemerintah tetap berkomitmen untuk melakukan pembenahan secara bertahap dengan pendekatan yang realistis dan berkelanjutan.
“Kalau ada program yang biayanya besar dan belum bisa dijangkau, kita harus mencari pendekatan lain,” katanya.
Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk pelaku usaha transportasi, untuk bersama-sama berkontribusi dalam menciptakan sistem transportasi yang lebih tertata dan ramah lingkungan di Samarinda.
“Ini pekerjaan bersama. Kalau kita bergerak bersama, perubahan itu pasti bisa kita wujudkan,” pungkasnya. (SIK)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id







