Tak Sekadar Dipenjara, Warga Binaan Lapas Samarinda Dibentuk Jadi Pribadi Produktif Lewat Program Ketahanan Pangan

Lapas Kelas IIA Samarinda bersama warga binaan panen telur hasil beternak ayam petelur di lingkungan lapas. (Foto: Siko/Kaltimetam.id)

Samarinda, Kaltimetam.id – Suasana berbeda tampak di area Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Samarinda. Di balik tingginya tembok dan ketatnya pengamanan, sejumlah warga binaan justru sibuk menjalani aktivitas produktif mulai dari beternak ayam petelur, membudidayakan ikan lele, hingga merawat tanaman hidroponik.

Program tersebut menjadi bagian dari pembinaan kemandirian yang kini terus dikembangkan pihak lapas guna membekali warga binaan dengan keterampilan kerja sebelum kembali ke masyarakat.

Tak hanya menjadi kegiatan positif selama menjalani masa pidana, program itu juga diharapkan mampu membangun mental, tanggung jawab, dan bekal usaha bagi warga binaan setelah bebas nanti.

Di area peternakan, beberapa warga binaan tampak rutin memberi makan ayam, membersihkan kandang, hingga memastikan kesehatan ternak tetap terjaga.

Salah seorang warga binaan yang ikut mengelola peternakan ayam, Wahyu Rahmadi, mengaku kegiatan tersebut memberikan pengalaman baru sekaligus semangat positif selama berada di dalam lapas.

“Ngelola ayam ini tiap hari kita harus kasih makan, minum, vitamin dan kita harus membersihkan kandangnya biar tidak kena virus,” ujarnya.

Menurut Wahyu, selain memberi pakan dan membersihkan kandang, dirinya juga belajar mengenali kondisi kesehatan ayam agar ternak tetap produktif.

“Terus kita bisa melihat ayam itu lagi sehat atau sakit. Kita bisa melihat dari bola matanya, dari kepalanya,” katanya.

Ia mengaku sebenarnya sudah memiliki pengalaman dasar memelihara ayam sejak sebelum masuk lapas.

Dulu, dirinya pernah memelihara ayam bangkok di rumah sehingga tidak terlalu asing dengan dunia peternakan.

“Pernah dulu dilatih di rumah, memelihara ayam bangkok. Banyak dulu di rumah itu memelihara ayam bangkok,” ucapnya.

Namun selama berada di dalam lapas, Wahyu mengaku kembali mendapatkan pembinaan dan pelatihan yang lebih terarah dari petugas.

Para warga binaan diajarkan cara merawat ternak dengan baik mulai dari pemberian pakan, vitamin, hingga menjaga kebersihan kandang.

“Dari lapas kita dilatih mulai awal. Kasih makan, kasih minum, kasih vitamin, obat-obatannya tiap hari biar ayam itu sehat terus,” katanya.

Baginya, aktivitas tersebut memberikan rasa tenang sekaligus harapan baru di tengah masa pembinaan yang dijalani.

Ia mengaku senang karena selama di lapas ternyata tetap ada kegiatan positif yang bermanfaat untuk masa depan.

“Senang pak. Bahagia kita menjalani peternakan ini. Ternyata ada kegiatan positif,” tuturnya.

Wahyu berharap keterampilan yang diperoleh selama berada di lapas nantinya dapat menjadi modal untuk membangun usaha setelah bebas.

“Kita mulai dari sini nanti di luar kita lanjutkan lagi. Ada keterampilan sendiri,” tutupnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Kegiatan Kerja Lapas Kelas IIA Samarinda, Gunawan mengatakan program pembinaan berbasis ketahanan pangan tersebut merupakan arahan langsung dari Kepala Lapas untuk memanfaatkan lahan yang tersedia secara produktif.

“Untuk ketahanan pangan, khususnya di Lapas Kelas IIA Samarinda, perintah dari Bapak Kalapas untuk mengembangkan atau membudidayakan lahan yang ada,” ujarnya.

Menurut Gunawan, saat ini pihak lapas mengembangkan berbagai sektor budidaya mulai dari pertanian hidroponik, perikanan hingga peternakan.

Pada sektor hidroponik, lapas membudidayakan tanaman sayur seperti pakcoy dan seledri.

Selain itu, terdapat pula tanaman cabai yang dikembangkan sebagai bagian dari program ketahanan pangan.

“Kalau di hidroponik itu ada pakcoy, jenis sawi, dan seledri. Terus yang kedua juga ada lombok,” katanya.

Tidak hanya pertanian, lapas juga mengembangkan budidaya ikan lele dengan jumlah bibit mencapai sekitar 2.000 ekor.

Sementara pada sektor peternakan, Lapas Samarinda kini memiliki sekitar 50 ekor ayam petelur yang dikelola langsung oleh warga binaan.

“Yang di perikanan itu juga ada ikan lele. Kemarin baru bibitnya sekitar 2.000. Dan yang di peternakan di sini ada ayam petelur sekitar 50 ekor,” bebernya.

Dari puluhan ayam petelur tersebut, setiap hari lapas mampu menghasilkan sekitar 35 butir telur.

Hasil produksi sementara dimanfaatkan untuk kebutuhan internal di lingkungan lapas.

“Kalau untuk produksinya itu dipasarkan di dalam aja, di dalam kita,” ucapnya.

Ke depan, hasil produksi tersebut juga direncanakan akan bekerja sama dengan dapur lapas maupun pihak ketiga.

“Nanti akan bekerja sama dengan pihak ketiga. Kita setor ke dapur dan apabila nanti panennya agak banyak mungkin akan terus bisa dipasarkan,” tuturnya.

Gunawan menjelaskan, seluruh kegiatan budidaya memang sengaja melibatkan warga binaan sebagai bentuk pembinaan keterampilan kerja.

Tujuannya agar mereka memiliki kemampuan yang dapat dimanfaatkan saat kembali ke masyarakat nantinya.

“Pemeliharaan ini kita kerjakan tentunya warga binaan supaya nantinya setelah masa pidananya selesai, bebas dari sini dia bisa mengaplikasikan kembali,” katanya.

Meski dikelola warga binaan, seluruh aktivitas tetap berada dalam pengawasan ketat petugas lapas demi menjaga keamanan dan ketertiban.

Selain pengawasan keamanan, petugas juga memberikan arahan teknis terkait kebersihan kandang, pemberian vitamin, hingga cara merawat ternak dan tanaman dengan baik.

“Kalau untuk pengembangan warga binaan pekerja itu tentu harus dikawal petugasnya demi keamanan juga,” pungkasnya. (SIK)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id