Rencana Pemindahan Pedagang Segiri Belum Disetujui, Tekanan Fiskal Jadi Kendala Utama

Para pedagang yang berjualan di Pasar Segiri Samarinda. (Foto: Ree/Kaltimetam.id)

Samarinda, Kaltimetam.id – Di tengah pengetatan belanja yang sedang diberlakukan Pemkot Samarinda, proyek besar revitalisasi Pasar Segiri kembali menjadi sorotan. Pemerintah kota memang telah mengantongi DED yang sudah dinyatakan final, namun seluruh tahapan berikutnya, terutama pendanaan dan relokasi ribuan pedagang masih berada dalam ruang tunggu.

Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Samarinda, Marnabas Patiroy, menegaskan bahwa tekanan efisiensi anggaran membuat pemkot harus berhitung cermat sebelum mengambil keputusan soal lokasi penampungan pedagang.

Ia bahkan menyebut bahwa wacana memindahkan pedagang ke eks Bandara Temindung belum memasuki tahap persetujuan resmi.

“Belum. Kami sekarang semua bergerak, dalam posisi efisiensi. Tapi kami tetap mencari jalur lain. Mudah-mudahan pemerintah pusat bisa bantu lewat kementerian perdagangan. Ada Dana Alokasi Khusus (DAK) fisik di sana, siapa tahu nanti bisa dibantu,” ujarnya, Kamis (27/11/2025).

Konsep pasar baru sebenarnya telah beres sejak awal tahun. Namun pergerakan selanjutnya sangat bergantung pada strategi pendanaan. Pemerintah mempertimbangkan banyak opsi, termasuk memanfaatkan skema pusat jika peluangnya memungkinkan.

Tekanan fiskal, kata Marnabas, membuat setiap skenario harus disiapkan secara paralel.

Sembari menunggu kepastian sumber biaya, pemkot juga menghitung ulang lokasi relokasi sementara pedagang. Beberapa titik alternatif dipetakan, mulai dari Segiri 2 di Jalan DI Panjaitan hingga opsi lain yang dinilai memungkinkan secara operasional.

“Dilihat nanti pedagang dipindahkan ke mana. Bisa ke Segiri 2 di Jalan DI Panjaitan, atau alternatif lain yang lagi dipertimbangkan. Ini beda dengan Pasar Pagi ya, karena Pasar Segiri itu kan pasar basah, beroperasi 24 jam, aktivitasnya besar sekali,” terangnya.

Pasar Segiri memiliki peran vital dalam rantai pasok pangan Samarinda dan kota-kota penyangga. Arus komoditas seperti bawang, cabai, hingga sayuran mayoritas berputar di kawasan ini.

Karena itu, sembari menunggu kepastian anggaran, pemkot memilih memastikan rancangannya kokoh terlebih dahulu.

“DED-nya sudah matang. Tinggal tunggu dana saja,” tegas Marnabas.

Untuk desainnya, pemkot memilih tidak meniru konsep semi-mal seperti Pasar Pagi. Pasar Segiri tetap dikembangkan sebagai pasar rakyat modern yang mempertahankan karakter pasar basah.

“Desainnya tetap bagus, jangan ragukan. Tapi beda dengan Pasar Pagi. Ini pasar rakyat, dominan untuk kebutuhan bapokting,” imbuhnya.

Di sisi lain, estimasi biaya masih terus dirampingkan. Perhitungan awal Disdag yang menembus Rp 300 miliar kini ditargetkan turun hingga kisaran Rp 200 miliar.

Meski revisinya belum selesai, pemerintah yakin ada ruang kreativitas untuk menutup kebutuhan dana.

“Sedang direvisi lagi. Masih di atas 200 miliar. Targetnya 200 miliar. Kami harus pintar-pintar. Walau APBD terbatas, pemkot punya banyak cara dan optismistis,” tutupnya. (REE)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id

Exit mobile version