Samarinda, Kaltimetam.id – Proses pembangunan SD Negeri 010 Palaran hingga kini belum sepenuhnya rampung. Akibatnya, kegiatan belajar mengajar masih harus dilakukan dengan sistem bergantian dan menumpang di sekolah lain.
Saat ini, sebagian siswa terpaksa menjalani aktivitas belajar pada siang hari di SD 024 Palaran, Jalan Padat Karya.
Keterbatasan ruang membuat proses pembelajaran harus diatur bergiliran dengan pihak sekolah yang ditumpangi.
Kepala SDN 010 Palaran, Sarti, menjelaskan bahwa kondisi ini terjadi karena jumlah ruang kelas yang tersedia belum mencukupi kebutuhan.
“Sekarang kita masih menumpang, karena sekolah yang kita tempel itu hanya punya delapan ruang kelas, sementara kebutuhan kita ada dua belas,” ungkap Sarti.
Ia menuturkan, satu ruang kelas saat ini diisi sekitar 26 siswa yang belajar pada siang hari, mulai pukul 13.00 hingga 16.00 WITA.
Sementara pada pagi hari, ruangan digunakan untuk aktivitas administrasi sekolah.
“Satu kelas itu sekitar 26 siswa, masuknya siang sampai sore. Kalau pagi digunakan untuk kepala sekolah dan tata usaha,” jelasnya.
Secara keseluruhan, jumlah siswa di SDN 010 Palaran mencapai sekitar 300 orang. Meski jumlah tersebut relatif stabil, keterbatasan fasilitas membuat proses pembelajaran belum berjalan optimal.
Sarti juga mengungkapkan bahwa sebelum proses pembangunan dimulai, kondisi bangunan sekolah sangat memprihatinkan.
Bahkan, SDN 010 Palaran menjadi satu-satunya sekolah di kawasan tersebut yang masih menggunakan bangunan berbahan kayu.
“Sebelum direnovasi, kondisi sekolah ini rusak parah. Di Palaran, hanya sekolah ini yang bangunannya masih kayu, sementara yang lain sudah beton,” tutur Sarti.
Pembangunan sekolah ini sendiri merupakan hasil perjuangan panjang pihak sekolah bersama komite dan dukungan berbagai pihak.
Proposal yang diajukan sejak beberapa waktu lalu akhirnya mendapat respons dari pemerintah, hingga pembangunan mulai dilakukan pada 2025 melalui anggaran Pemerintah Kota Samarinda.
Namun dalam pelaksanaannya, proyek pembangunan menghadapi kendala teknis, terutama terkait kondisi tanah.
Kedalaman tiang pancang yang semula direncanakan 18 meter harus diperpanjang hingga 30 meter untuk mencapai tanah keras, sehingga berdampak pada pembengkakan anggaran.
“Awalnya direncanakan 18 meter sudah sampai tanah keras, ternyata harus sampai 30 meter. Akibatnya anggaran terserap di situ dan ada empat ruangan yang belum terbangun,” jelasnya.
Saat ini, pembangunan tahap pertama baru menghasilkan sebagian ruang, dengan rencana total 14 ruangan.
Dari jumlah tersebut, 12 ruang akan digunakan untuk kelas, sementara dua lainnya untuk ruang UKS dan ruang pertemuan.
Sarti menyebut, kelanjutan pembangunan direncanakan akan dilakukan pada tahun ini, sambil menunggu realisasi anggaran lanjutan.
Ia berharap proses tersebut dapat segera terealisasi agar kegiatan belajar mengajar kembali normal di gedung sendiri.
Selain ruang kelas, pihak sekolah juga berharap adanya dukungan fasilitas lain seperti mebel atau perlengkapan belajar, mengingat kondisi yang ada saat ini sudah banyak mengalami kerusakan akibat penyimpanan sementara.
“Harapannya sekolah kami cepat selesai dibangun, dan kalau bisa sekalian dengan mebelnya, karena yang ada sekarang sudah banyak yang rusak,” pungkasnya. (REE)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id
