Samarinda, Kaltimetam.id – Revitalisasi Pasar Pagi Samarinda yang digadang-gadang menjadi wajah baru pusat perdagangan di Kota Tepian ternyata belum sepenuhnya membawa angin segar bagi para pedagang. Di balik bangunan modern dengan fasilitas yang lebih representatif, aktivitas jual beli dinilai masih jauh dari harapan.
Memasuki beberapa bulan setelah proses relokasi pedagang ke gedung baru, sebagian besar pelaku usaha mengaku masih berjuang mempertahankan usahanya di tengah minimnya jumlah pembeli. Kondisi tersebut bahkan membuat sejumlah pedagang kesulitan menutup biaya operasional harian.
Ketua Forum Pasar Pagi Samarinda, Thoriq Hakim, mengatakan kondisi pasar saat ini belum memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi para pedagang. Menurutnya, bangunan baru memang menghadirkan suasana yang lebih nyaman dan tertata, namun belum mampu menarik arus pengunjung sebagaimana yang diharapkan.
“Kalau dulu saya berjualan di lokasi yang berada di bagian depan, alhamdulillah pembeli cukup ramai. Sekarang kondisinya seperti ini, bisa dilihat sendiri bagaimana aktivitas di dalam pasar,” ujarnya.
Sebagai perwakilan pedagang, Thoriq mengungkapkan Forum Pasar Pagi telah menyampaikan berbagai aspirasi kepada Pemerintah Kota Samarinda melalui surat resmi yang ditujukan kepada Wali Kota. Dalam surat tersebut, terdapat sekitar sepuluh poin usulan yang diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan aktivitas perdagangan di dalam gedung pasar.
Salah satu usulan utama yang disampaikan ialah peningkatan akses menuju lantai-lantai atas gedung. Menurutnya, desain bangunan dengan tangga yang tinggi membuat sebagian pengunjung enggan melanjutkan perjalanan ke lantai berikutnya.
“Kami mengusulkan agar tangga yang cukup tinggi itu dilengkapi eskalator sehingga masyarakat lebih mudah dan nyaman mengakses seluruh area pasar,” katanya.
Selain persoalan akses, para pedagang juga meminta pemerintah meninjau kembali besaran retribusi maupun tarif parkir yang dinilai masih cukup tinggi.
Menurut Thoriq, keluhan tersebut tidak hanya datang dari pedagang, tetapi juga dari masyarakat yang merasa biaya parkir menjadi salah satu pertimbangan sebelum berbelanja di Pasar Pagi.
“Kami berharap retribusi dapat ditinjau kembali, begitu juga tarif parkir. Keluhan itu bukan hanya dari pedagang, tetapi juga dari masyarakat yang datang berbelanja,” ucapnya.
Persoalan lain yang dinilai cukup berpengaruh terhadap aktivitas perdagangan adalah sistem penataan kios. Thoriq menilai pembagian kios berdasarkan klaster saat ini justru menyulitkan pedagang yang memiliki lebih dari satu unit usaha.
Ia mencontohkan dirinya yang memiliki lima kios di lantai tiga, namun seluruh kios tersebut berada di lokasi yang berjauhan sehingga harus dijaga oleh lebih banyak karyawan.
“Kalau kiosnya berpencar seperti ini, otomatis kami harus menambah tenaga kerja. Padahal kalau posisinya berdekatan, pengelolaannya akan jauh lebih efisien,” jelasnya.
Menurutnya, penataan ulang kios bagi pedagang yang memiliki beberapa unit perlu dipertimbangkan agar seluruh lapak dapat dimanfaatkan secara maksimal sekaligus mengurangi beban operasional para pelaku usaha.
Di sisi lain, masih banyaknya kios yang belum terisi, terutama di lantai atas, juga menjadi perhatian. Minimnya aktivitas di area tersebut membuat suasana pasar terasa sepi dan berdampak terhadap omzet pedagang yang telah mulai berjualan.
Untuk meningkatkan pergerakan pengunjung, Forum Pasar Pagi juga mengusulkan perubahan konsep penataan fasilitas, khususnya kawasan kuliner.
Thoriq menilai penyebaran tenant makanan di berbagai lantai membuat arus pengunjung terpecah. Sebaliknya, apabila seluruh area kuliner dipusatkan di satu lokasi, masyarakat akan terdorong menjelajahi seluruh lantai sebelum mencapai area tersebut.
“Kalau food court dipusatkan di satu tempat, misalnya di lantai atas, otomatis orang akan melewati lantai-lantai lainnya. Itu bisa menciptakan peluang agar mereka melihat-lihat dan akhirnya berbelanja,” katanya.
Tak hanya menyampaikan usulan teknis, Forum Pasar Pagi juga berharap komunikasi antara pedagang dengan pemerintah dapat berjalan lebih intensif. Thoriq mengaku pihaknya telah beberapa kali mengajukan permohonan audiensi kepada Dinas Perdagangan Kota Samarinda untuk membahas berbagai persoalan yang dihadapi pedagang. Namun hingga saat ini, menurutnya, permohonan tersebut belum memperoleh tanggapan.
“Kami sudah empat kali menyampaikan surat permohonan audiensi, tetapi sampai sekarang belum ada respons,” ungkapnya.
Meski menyampaikan sejumlah kritik, Thoriq menegaskan para pedagang pada dasarnya mendukung upaya pemerintah dalam membangun Pasar Pagi yang lebih modern. Mereka hanya berharap pemerintah turut memperhatikan aspek fungsional bangunan agar investasi besar yang telah dikeluarkan benar-benar mampu menghidupkan aktivitas ekonomi masyarakat.
Ia menilai keberhasilan revitalisasi pasar tidak cukup diukur dari tampilan fisik bangunan, tetapi juga dari tingkat aktivitas perdagangan yang berlangsung di dalamnya.
“Bagi kami, pasar bukan hanya soal bangunan yang bagus. Yang paling penting adalah bagaimana pedagang bisa berjualan dengan baik dan masyarakat mau datang untuk berbelanja. Dari sisi estetika mungkin sudah bagus, tetapi dari sisi fungsi masih banyak yang perlu dibenahi,” pungkasnya. (SIK)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id
