Pasca Tabrakan Tongkang, PUPR Kaltim Libatkan Ahli UGM untuk Uji Getaran dan Kesehatan Struktur Mahulu

Uji Beban Jembatan Mahakam Ulu Samarinda menggunakan truk DT. (Foto: Siko/Kaltimetam.id)
Uji Beban Jembatan Mahakam Ulu Samarinda menggunakan truk DT. (Foto: Siko/Kaltimetam.id)

Samarinda, Kaltimetam.id  – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur melalui Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, dan Perumahan Rakyat (PUPR-PERA) kembali melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu), Kota Samarinda, menyusul insiden tertabraknya fender dan pilar jembatan oleh kapal tongkang untuk ketiga kalinya pada (25/01/2026) lalu.

Langkah ini dilakukan sebagai bentuk kehati-hatian pemerintah daerah untuk memastikan kondisi struktur jembatan tetap aman bagi masyarakat, terutama karena Mahulu merupakan salah satu jalur vital penghubung kawasan Sungai Kunjang dan Samarinda Seberang, serta menjadi akses utama distribusi logistik di Kota Tepian.

Kepala Bidang Bina Marga PUPR-PERA Kaltim, Muhammad Muhran, menegaskan bahwa pemeriksaan ini merupakan tindak lanjut penting demi keselamatan pengguna jalan dan perlindungan aset daerah.

“Ini terkait insiden tertabraknya fender atau pilar jembatan yang ketiga kali. Kami sudah melakukan dua kali uji dinamis dan NDT agar bisa mengetahui sehat atau tidaknya jembatan, sehingga aman dilalui masyarakat,” ujarnya, Rabu (04/02/2026).

Muhran menjelaskan, pengujian kali ini difokuskan pada beberapa titik strategis, khususnya di area pilar yang terdampak benturan tongkang.

“Titik yang diuji sekitar seperempat hingga setengah bentang. Pilar yang tertabrak berada di sekitar P8, P9, dan P10,” jelasnya.

Pengujian dilakukan dengan metode dinamis untuk melihat kelenturan dan respons struktur jembatan terhadap getaran.

“Uji dinamis ini melihat kelenturan jembatan, prevensi, dan segala macam. Kami ingin memastikan tidak ada perubahan struktur pasca benturan,” tambahnya.

Meski pengujian telah selesai dilaksanakan, Muhran menyebut hasil resmi membutuhkan waktu untuk diproses.

“Kalau bisa cepat akan kami publikasikan segera, tetapi biasanya hasilnya keluar sekitar satu minggu,” katanya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam kelancaran pengujian tersebut, mulai dari aparat keamanan hingga instansi pelayaran.

“Kami berterima kasih kepada Polda, Kejati, Dishub, KSOP, Pelindo, dan masyarakat. Kami juga mohon maaf atas ketidaknyamanan karena ini demi kepentingan bersama,” ucapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Muhran juga menyinggung soal kondisi anggaran pembangunan jalan di Kaltim yang mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya.

“Tahun kemarin anggaran kami sekitar Rp1,2 triliun. Tahun ini turun, di Bina Marga hanya sekitar Rp300 miliar,” ungkapnya.

Meski demikian, ia memastikan program pembangunan tetap berjalan dengan mempertimbangkan skala prioritas dan manfaat langsung bagi masyarakat.

“Berapapun anggarannya, kami tetap melihat prioritas pekerjaan yang paling bermanfaat,” tegasnya.

Beberapa proyek prioritas disebutkan akan mendukung konektivitas menuju Ibu Kota Nusantara (IKN), termasuk pengerjaan ruas jalan Sotek–Bongan serta penyelesaian paket jalan di wilayah Berau.

Terpisah, Ahli Struktur Universitas Gadjah Mada (UGM), Christopher Triyoso, menjelaskan bahwa uji dinamis dilakukan bukan untuk membebani jembatan, melainkan untuk mengukur karakteristik getaran struktur.

“Kita melakukan pengujian getaran jembatan. Truk digunakan bukan untuk membebani, tetapi untuk menggetarkan struktur,” jelasnya.

Menurutnya, setiap struktur memiliki frekuensi alami yang berkaitan dengan kekakuan.

“Kalau kekakuan berubah, maka frekuensi struktur juga akan berubah. Itu yang ingin kami lihat, apakah masih sama atau ada perubahan,” katanya.

Pengujian dilakukan pada satu bentang utama yang berkaitan langsung dengan tiga pilar terdampak.

“Kami fokus di bentang ini dengan hentakan dari tengah dan seperempat bentang. Itu sudah cukup menggambarkan kondisi struktur,” jelasnya.

Terakhir, Christopher menambahkan, indikator kesehatan struktur jembatan dapat dilihat dari perbandingan hasil uji sebelumnya dengan hasil terbaru.

“Perbandingan frekuensi sebelumnya dan sekarang selisihnya maksimal 5 persen. Kalau lebih, berarti ada perubahan struktur,” pungkasnya. (SIK)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id

Uji Beban Jembatan Mahakam Ulu Samarinda menggunakan truk DT. (Foto: Siko/Kaltimetam.id)

Exit mobile version