Samarinda, Kaltimetam.id – Denyut aktivitas di pasar-pasar tradisional Kota Samarinda belakangan terasa melambat. Lapak-lapak yang biasanya ramai kini lebih sering lengang, seiring menurunnya daya beli masyarakat dalam beberapa bulan terakhir.
Kondisi ini dirasakan langsung oleh para pedagang, yang mengaku pendapatan mereka ikut terdampak.
Di Pasar Pagi, seorang pedagang tas yang tidak ingin disebutkan namanya, menyebut jumlah pembeli yang datang jauh berkurang dibandingkan sebelumnya.
“Jualan sepi sekali sekarang, sehari-hari jarang ada pembeli yang datang. Sebulan cuma dapat berapa aja, tidak menentu,” keluhnya saat ditemui di lapak dagangannya.
Tidak hanya pedagang tas, keluhan serupa juga datang dari pedagang pakaian di lantai lain. Ia mengaku kondisi sepi membuat perputaran modal menjadi terhambat, bahkan untuk kebutuhan harian pun mulai terasa berat.
“Kadang seharian pelaris saja susah. Mau bayar iuran dan memenuhi kebutuhan sehari-hari kewalahan kalau sepi terus begini,” keluhnya.
Fenomena ini ternyata tidak terjadi di satu lokasi saja. Pemerintah Kota Samarinda mencatat penurunan aktivitas jual beli juga dirasakan di sejumlah pasar lainnya di Kota Tepian.
Asisten II Sekretariat Kota Samarinda, Marnabas Patiroy, membenarkan bahwa kondisi tersebut berkaitan dengan melemahnya daya beli masyarakat di tingkat bawah.
“Ini sedang kita evaluasi terus. Coba cek saja di pasar-pasar lain, pedagang di Pasar Segiri juga mengeluh, Pasar Sungai Dama iya, Pasar Merdeka juga iya. Jadi memang daya beli masyarakat saat ini sedang turun,” kata Marnabas beberapa waktu lalu.
Sebagai langkah awal, pemerintah mulai mengkaji ulang sejumlah kebijakan yang dinilai berpengaruh terhadap minat kunjungan masyarakat ke pasar.
Salah satunya adalah sistem parkir progresif yang diterapkan di kawasan pasar, terutama di Pasar Pagi.
Kebijakan tarif parkir tersebut diduga membuat pengunjung enggan berlama-lama, bahkan memilih untuk tidak datang karena mempertimbangkan biaya tambahan.
Di sisi lain, perubahan pola belanja masyarakat juga menjadi tantangan tersendiri. Meningkatnya tren belanja online membuat pasar tradisional harus bersaing lebih keras dalam menarik minat konsumen.
Marnabas menilai, kondisi ini seharusnya menjadi momentum bagi para pedagang untuk mulai beradaptasi, tidak hanya mengandalkan cara lama dalam berdagang.
“Dalam dunia bisnis dan ekonomi, kita tidak boleh hanya mengeluh, tapi harus cari cara bagaimana bisa bersaing. Pemkot saat ini juga mencoba memberikan edukasi kepada para pedagang bagaimana cara menarik minat konsumen, baik dari segi model produk yang diminati warga Samarinda maupun cara pemasarannya,” demikian Marnabas. (REE)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id
