Samarinda, Kaltimetam.id – Rekayasa lalu lintas di kawasan Gunung Lingai yang mulai diberlakukan hampir sebulan terakhir belum menunjukkan hasil maksimal. Bukan hanya karena kondisi fisik jalan yang terbatas, tetapi juga tingginya perilaku tidak taat aturan dari pengendara.
Kepala Dishub Samarinda, Hotmarulitua Manalu, menegaskan bahwa persoalan utama bukan semata-mata pada skema rekayasa yang diterapkan, melainkan pelanggaran pengendara yang masih marak, terutama sepeda motor yang tetap memilih jalur cepat meski sudah diarahkan ke rute berbeda.
Menurutnya, banyak pengendara yang enggan mengikuti jalur sesuai skema rekayasa. Padahal alurnya sudah ditetapkan bahwa sepeda motor dari dalam Gunung Lingai diwajibkan mengarah ke Alaya terlebih dahulu untuk putar balik, sementara mobil dialihkan melalui Tri Dharma.
Namun di lapangan, justru banyak yang memotong jalur langsung ke D.I. Panjaitan 1.
“Pelanggaran itu yang menjadi sumber crossing. Begitu ada pengendara yang motong jalur, antrean langsung mengular,” ujarnya, Rabu (14/1/2026).
Ia menjelaskan, crossing tersebut memicu kemacetan di kawasan PM Noor yang selama ini menjadi titik paling rawan.
Dua jembatan di ruas itu memang mengalami penyempitan, tetapi situasi semakin parah ketika pola rekayasa dilanggar.
Tak hanya itu, muncul kembali fenomena “pak ogah” yang membantu mengatur lalu lintas secara informal.
Manalu menilai keberadaan mereka merupakan efek domino dari ketidakpatuhan pengendara yang menciptakan celah-celah crossing baru.
“Kalau jalurnya diikuti, pak ogah tidak akan muncul. Mereka ada karena lalu lintas jadi kacau akibat pelanggaran,” tegasnya.
Untuk menekan pelanggaran, Dishub Samarinda menyiapkan tahapan penertiban baru. Salah satunya adalah pemasangan rambu larangan masuk tambahan di ujung median sehingga tidak ada lagi peluang bagi pengendara untuk memotong jalur.
Lebih jauh, Manalu memastikan rekayasa lalu lintas di Gunung Lingai masih berada pada fase pertama atau jangka pendek, sehingga penyesuaian selanjutnya akan terus digulirkan.
Dishub menargetkan perubahan perilaku pengendara menjadi kunci keberhasilan penataan lalin di kawasan yang dikenal sebagai salah satu koridor tersibuk tersebut.
“Tahapannya bertahap. Setelah rambu ditambah, kita lihat lagi respons di lapangan,” demikian Manalu. (REE)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id
