Samarinda, Kaltimetam.id – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang pemerintah sebagai langkah strategis peningkatan gizi pelajar kembali menjadi sorotan publik. Sejumlah siswa SMA Negeri 13 Samarinda mengeluhkan jatah makan siang yang mereka terima dalam kondisi tidak layak, diduga basi dan mengeluarkan bau tidak sedap.
Kejadian ini bukan hanya mengejutkan siswa, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran mendalam di kalangan orang tua. Mereka khawatir program yang seharusnya mendukung tumbuh kembang generasi muda justru berpotensi menimbulkan risiko kesehatan.
Kasus ini kemudian ramai diperbincangkan di media sosial, bahkan memunculkan desakan agar pemerintah segera melakukan evaluasi besar-besaran terhadap penyelenggara MBG.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalimantan Timur, Jaya Mualimin, mengakui laporan tersebut dan menegaskan bahwa peristiwa ini harus dijadikan peringatan serius bagi seluruh pihak terkait.
“Masalah seperti ini biasanya berawal dari suplai atau penyimpanan bahan makanan yang tidak tepat. Ini harus dicek secara menyeluruh agar tidak berulang,” tegasnya.
Sebagai bentuk respons cepat, Dinkes Kaltim telah menginstruksikan tim kesehatan turun langsung ke lapangan. Koordinasi juga dilakukan bersama Dinas Kesehatan Kota Samarinda untuk memperketat pengawasan di sekolah-sekolah penerima MBG.
Menurut Jaya, tim gabungan akan melibatkan petugas Kesehatan Lingkungan (Kesling) dan ahli gizi yang ditugaskan memeriksa standar penyediaan makanan. Mulai dari bahan baku, proses pengolahan, hingga distribusi akan ditelusuri secara detail.
“Jika ada informasi tambahan, tim akan segera bergerak untuk melakukan inspeksi. Ini penting, karena yang menjadi korban adalah siswa. Kita tidak bisa menunggu sampai ada kasus keracunan,” ujarnya.
Laporan mengenai dugaan makanan bermasalah di SMAN 13 semakin diperkuat oleh pengakuan pihak Satuan Pemberi Pelayanan Gizi (SPPG) Sungai Pinang. Pihak yang bertanggung jawab mendistribusikan makanan di sekolah tersebut mengakui adanya catatan terkait kualitas makanan yang disalurkan.
“Harapannya, kasus serupa tidak kembali terjadi, apalagi sampai menimbulkan keracunan massal seperti yang pernah terjadi di daerah lain,” ucapnya.
Dinkes Kaltim berjanji melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG. Jaya menegaskan bahwa standar sanitasi dan keamanan pangan harus dipenuhi oleh seluruh penyedia makanan.
“Ini menyangkut kesehatan siswa, jadi tidak boleh ditunda. Kalau bisa, evaluasi dilakukan hari ini juga,” pungkasnya. (SIK)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id
