Samarinda, Kaltimetam.id – Anggota Komisi IV DPRD Kalimantan Timur, Andi Satya Adi Saputra, angkat bicara menanggapi sorotan publik terkait posisinya sebagai pengusaha sekaligus wakil rakyat. Namanya belakangan ramai diperbincangkan lantaran dirinya tercatat sebagai pendiri dan pemegang kendali di balik berdirinya Rumah Sakit Mulya Medika di kawasan Samarinda Seberang.
Isu dugaan konflik kepentingan mencuat, memicu perdebatan di kalangan masyarakat mengenai batasan antara kepentingan bisnis dan tugas legislasi. Menjawab hal itu, Andi menegaskan bahwa rumah sakit tersebut sepenuhnya dibangun dengan modal swasta, tanpa ada keterlibatan dana publik.
“Tidak ada keterlibatan APBD maupun APBN dalam pembangunan RS Mulya Medika. Semua murni dari modal mandiri perusahaan kami. Karena itu, tidak ada konflik kepentingan dengan tugas saya sebagai anggota DPRD,” tegasnya.
Andi menyebut, kesalahpahaman publik terjadi karena status jabatannya kerap ditafsirkan keliru. Ia menegaskan dirinya bukan direktur utama rumah sakit, melainkan direktur utama PT Mira Mulya Abadi Medical, perusahaan yang mendirikan dan memiliki rumah sakit tersebut.
Untuk pengelolaan operasional sehari-hari, rumah sakit dikelola penuh oleh tim direksi profesional yang dipimpin seorang direktur rumah sakit.
“Peran saya hanya terbatas pada level pengawasan dan penetapan visi. Manajemen teknis rumah sakit sepenuhnya berada di tangan profesional. Saya ingin pastikan masyarakat mendapat layanan kesehatan yang berkualitas, itu saja,” jelasnya.
Isu etika rangkap jabatan yang dialamatkan kepadanya, menurut Andi, sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD (UU MD3). Aturan tersebut dengan tegas melarang anggota dewan melakukan pekerjaan yang terkait dengan anggaran negara, baik APBN maupun APBD, atau yang berpotensi menimbulkan benturan kepentingan dengan kewenangan legislatif.
Namun, kepemilikan usaha swasta yang berdiri murni dari modal mandiri tidak termasuk dalam larangan tersebut.
“UU MD3 memang melarang rangkap jabatan tertentu. Tetapi tidak ada larangan bagi anggota DPRD untuk memiliki usaha pribadi, selama tidak menggunakan dana negara. Dalam konteks RS Mulya Medika, jelas tidak ada unsur APBD maupun APBN,” terangnya.
Andi menuturkan, pembangunan RS Mulya Medika berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat Samarinda Seberang yang selama ini kesulitan mendapatkan layanan kesehatan modern. Banyak warga harus menyeberang ke pusat kota hanya untuk mendapat perawatan medis yang lebih lengkap.
“Kondisi itu menimbulkan keresahan. Kami berinisiatif menghadirkan rumah sakit yang lebih dekat, sehingga masyarakat tidak perlu lagi menyeberang jauh. Tujuannya murni agar layanan kesehatan lebih mudah diakses,” ucapnya.
Pendirian rumah sakit ini, lanjut Andi, bukan semata-mata investasi bisnis, melainkan wujud kepedulian kepada warga.
“RS Mulya Medika kami bangun agar masyarakat mendapatkan fasilitas kesehatan yang layak, sesuai dengan standar modern,” katanya.
Selain memberi layanan kesehatan, keberadaan RS Mulya Medika juga mendatangkan dampak ekonomi signifikan. Ratusan tenaga kerja lokal terserap, baik dari kalangan tenaga medis maupun non-medis. Kehadiran rumah sakit juga menumbuhkan geliat UMKM di sekitarnya.
“Banyak warung, toko perlengkapan kesehatan, hingga penyedia jasa transportasi di sekitar rumah sakit ikut berkembang. Jadi manfaatnya bukan hanya dari sisi kesehatan, tetapi juga dari aspek ekonomi lokal,” tutur Andi.
Ia menilai, dengan adanya rumah sakit baru, pemerintah daerah pun terbantu dalam memperluas cakupan layanan kesehatan.
“Kami hadir sebagai mitra strategis pemerintah. Tanpa menggunakan dana publik, kami ikut membantu meringankan beban negara,” tambahnya.
Lebih lanjut, Andi menyadari, posisinya sebagai legislator sekaligus pengusaha rawan dipolitisasi. Namun ia menekankan bahwa dirinya tetap memisahkan kedua peran tersebut.
“Sebagai wakil rakyat, saya bekerja sesuai fungsi legislatif yaitu membuat regulasi, mengawasi, dan menyerap aspirasi. Sementara sebagai pengusaha, saya berusaha menghadirkan manfaat nyata melalui jalur swasta. Dua hal itu saya pisahkan dengan tegas,” ujarnya.
Terakhir, ia menekankan pentingnya keberadaan RS Mulya Medika sebagai kontribusi nyata untuk masyarakat.
“Kalau masyarakat merasa terbantu dengan adanya rumah sakit ini, maka itu sudah menjadi pembuktian bahwa kami berada di jalur yang benar,” pungkasnya. (SIK)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id
