Samarinda, Kaltimetam.id – Ramadan di tepian Sungai Mahakam tidak hanya menghadirkan suasana ibadah yang khusyuk, tetapi juga menghidupkan ruang kebersamaan di tengah masyarakat.
Di Masjid Shirathal Mustaqiem, aktivitas berbuka puasa menjadi momentum sosial yang mempertemukan warga, jamaah, dan pendatang melalui satu tradisi yang terus bertahan, yakni sajian bubur peca.
Masjid bersejarah yang telah berdiri lebih dari seabad ini setiap tahun menjelma menjadi titik temu masyarakat menjelang waktu berbuka.
Sejak sore hari, relawan mulai bersiap, sementara jamaah berdatangan untuk menanti hidangan yang bukan sekadar makanan, melainkan simbol kepedulian dan gotong royong.
Pengurus masjid, Ishak Ismail, menjelaskan bahwa bubur peca sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan Ramadan di kawasan Samarinda Seberang.
“Buka puasa dengan bubur peca sudah menjadi tradisi masyarakat Samarinda Seberang sejak lama,” ujarnya, Sabtu (21/2/2026).
Ia menerangkan, kegiatan berbuka bersama digelar setiap hari sepanjang Ramadan, mulai awal hingga akhir bulan.
Tradisi ini bukan hanya memenuhi kebutuhan konsumsi jamaah, tetapi juga memperkuat interaksi sosial antarwarga yang datang dari berbagai latar belakang.
Dalam praktiknya, penyediaan hidangan sepenuhnya mengandalkan partisipasi masyarakat.
Donasi dari jamaah dan dermawan dikelola secara terbuka, bahkan diumumkan secara rutin setiap malam sebelum salat tarawih sebagai bentuk akuntabilitas pengurus kepada publik.
“Semua bantuan dari jamaah dan donatur kami umumkan setiap malam sebelum tarawih,” jelasnya.
Antusiasme masyarakat terlihat dari jumlah jamaah yang terus meningkat. Tidak hanya warga sekitar, banyak pengunjung dari luar kota yang datang khusus untuk merasakan suasana berbuka di masjid tertua Samarinda tersebut.
Dalam satu hari, jumlah penerima hidangan bisa mencapai ratusan orang.
“Setiap harinya, masjid mampu melayani hingga 500 orang yang ingin berbuka puasa,” tutur Ishak.
Lebih dari sekadar tradisi lokal, bubur peca juga memiliki nilai budaya yang kuat. Pada 2025, kuliner khas yang disajikan dalam kegiatan berbuka di masjid ini ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda, mempertegas posisinya sebagai bagian dari identitas masyarakat yang terus dijaga lintas generasi.
Melalui tradisi ini, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga ruang yang merawat solidaritas sosial.
Pengurus pun memastikan siapa saja dapat merasakan suasana berbuka bersama, termasuk rombongan dari luar daerah, dengan koordinasi terlebih dahulu agar persiapan porsi tetap mencukupi.
“Jika ada rombongan atau tamu dalam jumlah besar, mohon sebelumnya diinformasikan agar semua bisa mendapat porsi yang cukup,” pungkasnya. (REE)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id







