Samarinda, Kaltimetam.id – Kasus kematian seorang remaja laki-laki berusia 14 tahun di sebuah daerah kembali menyita perhatian publik setelah keluarga menemukan sejumlah kejanggalan pada tubuh korban dan menerima keterangan tambahan dari teman-teman sebaya almarhum. Kematian yang awalnya disebut akibat sakit kepala kini berubah menjadi dugaan kuat adanya tindak penganiayaan.
Ibu korban, Sartia, mengakui bahwa pada awalnya ia tidak mencurigai apa pun. Penjelasan yang diterimanya tentang putranya yang disebut meninggal karena sakit kepala sempat membuatnya pasrah. Namun, beberapa hari kemudian, sebuah unggahan di media sosial salah satu teman anaknya memantik kecurigaan besar.
“Yang saya ketahui, anak saya habis dipukul. Dia sendiri tidak sempat ngomong apa-apa. Tapi beberapa hari setelahnya saya lihat Story WA temannya tertulis ‘aku ikhlas dengan kepergianmu, aku tidak ikhlas dengan cara kematianmu,” ujarnya.
Unggahan tersebut menjadi titik balik keluarga. Sebuah pesan yang singkat, namun dianggap mengandung makna mendalam tentang apa yang benar-benar terjadi sebelum remaja itu menghembuskan napas terakhir.
Menurut keterangan ibu korban, tidak ada tanda-tanda mencurigakan pada diri putranya sebelum tragedi terjadi. Malam itu, anaknya pulang dari sekolah, menjalankan salat Isya, lalu meminta izin pergi bermain ke rumah temannya.
“Itu terakhir kalinya saya melihat dia dalam kondisi sehat,” katanya.
Ia menegaskan, putranya bukan tipe anak yang memiliki masalah dengan orang lain.
“Setahu saya, anak saya itu tidak nakal, tidak senang mengganggu orang,” tambahnya.
Namun keesokan harinya, kabar duka datang. Putranya ditemukan meninggal dengan kondisi yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan secara medis berdasarkan informasi awal yang diterima keluarga.
Kecurigaan keluarga semakin menguat saat jenazah korban dipersiapkan untuk dimandikan. Di sana, mereka menemukan memar di bagian belakang tubuh korban, serta busa yang masih keluar dari mulut almarhum.
“Ada memar di bagian belakang badan, dan liurnya berbusa,” ungkapnya.
Kondisi ini dianggap tidak wajar oleh keluarga, terutama karena korban tidak memiliki riwayat penyakit serius yang dapat mengarah pada gejala seperti itu.
Sementara itu, sejumlah warga yang sempat melihat kondisi jenazah juga mengaku terkejut dengan keadaan tubuh korban yang dinilai tidak lazim untuk kasus kematian akibat sakit biasa.
Terpisah, Kuasa hukum keluarga dari Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA), Sudirman, menyatakan bahwa kesaksian dari teman-teman dekat korban membuka banyak pertanyaan baru. Menurutnya, ada sejumlah saksi yang memberikan informasi berkaitan dengan dugaan tindak kekerasan.
“Saksi ini memberikan keterangan yang membuat orangtua korban memutuskan untuk mengusut kasus ini,” jelas Sudirman.
Ia menyebutkan bahwa sejak awal keluarga sebenarnya melihat kejanggalan, namun belum memiliki dasar yang cukup kuat untuk menolak keterangan awal mengenai penyebab kematian.
“Waktu dikafankan pun masih keluar busa dari mulut. Secara kasat mata terlihat sedikit lebam. Tapi waktu itu tidak ada keterangan apa-apa, jadi mereka bingung,” katanya.
TRC PPA menegaskan bahwa pihaknya siap mendampingi keluarga hingga proses hukum menemukan titik terang. Mengenai siapa saja yang diduga terlibat, Sudirman menyampaikan bahwa hal itu sepenuhnya bergantung pada pihak kepolisian yang kini tengah melakukan penyelidikan.
“Kalau terkait para pelaku, itu kembali pada kebenaran yang nanti ditemukan kepolisian. Kami hanya mendampingi keluarga korban,” ucapnya.
“Untuk perkembangan lebih lanjut silakan rekan media menanyakannya kepada kepolisian,” tandasnya. (SIK)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id
