Samarinda, Kaltimetam.id – Memasuki periode musim kemarau yang diprediksi berlangsung sejak April hingga Oktober 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda mulai meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta dampak suhu ekstrem terhadap masyarakat.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Samarinda, Suwarso, mengungkapkan bahwa berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau tahun ini diperkirakan datang lebih cepat dengan suhu yang cenderung lebih tinggi dibandingkan kondisi normal.
“Kami sudah mendapatkan informasi dari BMKG bahwa kemarau datang lebih cepat. Bahkan sebelum April, suhu sudah mulai terasa lebih tinggi dan ini menjadi perhatian bagi kami,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut mulai menunjukkan dampaknya dengan munculnya sejumlah kejadian kebakaran lahan di beberapa wilayah, meski masih dalam skala kecil. Hal ini menjadi indikator awal meningkatnya risiko karhutla di Kota Samarinda.
Untuk itu, BPBD bersama Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar), BPBD provinsi, serta relawan di seluruh wilayah kota telah disiagakan guna menghadapi kemungkinan terjadinya kebakaran yang lebih luas.
“Personel dan peralatan sudah kami siapkan. Relawan juga kami libatkan untuk membantu penanganan awal di lapangan,” katanya.
Salah satu tantangan utama dalam penanganan karhutla adalah keterbatasan sumber air di lokasi kebakaran, terutama di kawasan lahan terbuka seperti semak belukar dan ilalang. Oleh karena itu, keberadaan embung atau penampungan air dinilai sangat penting untuk mempercepat proses pemadaman.
“Pengalaman sebelumnya, kita sering kesulitan air saat pemadaman. Ini yang membuat penanganan menjadi lambat. Maka embung menjadi solusi yang harus disiapkan,” jelasnya.
BPBD juga mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, mengingat praktik tersebut menjadi salah satu penyebab utama terjadinya kebakaran lahan yang sulit dikendalikan.
Selain itu, masyarakat diminta segera melaporkan jika menemukan indikasi kebakaran kepada Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD agar penanganan dapat dilakukan secara cepat dan tepat.
“Kami harapkan laporan yang disampaikan benar dan akurat, sehingga tidak terjadi kesalahan informasi yang justru menghambat penanganan di lapangan,” tambahnya.
Dari pemetaan yang dilakukan, sejumlah wilayah di Samarinda dinilai memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap karhutla. Di antaranya Kecamatan Palaran, Sambutan, Sungai Kunjang, hingga Loa Janan yang didominasi lahan terbuka.
Wilayah-wilayah tersebut menjadi prioritas pemantauan, dengan melibatkan relawan serta desa tangguh bencana (destana) dalam upaya mitigasi dini sebelum tim utama turun ke lokasi.
“Relawan dan destana kami dorong untuk melakukan penanganan awal, sehingga api tidak meluas sebelum petugas tiba,” tuturnya.
Selain ancaman karhutla, suhu udara yang mencapai sekitar 34 derajat Celsius juga menjadi perhatian serius karena berpotensi berdampak pada kesehatan masyarakat, seperti dehidrasi hingga gangguan kulit.
BPBD mengimbau warga untuk menjaga kondisi tubuh, menggunakan pelindung saat beraktivitas di luar ruangan, serta memastikan asupan cairan tetap terpenuhi.
“Masyarakat harus tetap menjaga kesehatan di tengah suhu tinggi ini. Jangan sampai aktivitas terganggu akibat dehidrasi atau kelelahan,” lanjutnya.
Meski demikian, BMKG memprediksi masih ada potensi hujan di tengah musim kemarau, meskipun intensitasnya tidak tinggi. Kondisi ini diharapkan dapat membantu mengurangi risiko kebakaran di beberapa wilayah.
Dengan berbagai langkah antisipatif yang telah disiapkan, Suwarso berharap potensi karhutla dapat diminimalisir serta dampak yang ditimbulkan tidak meluas.
“Kesiapsiagaan ini harus menjadi tanggung jawab bersama. Dengan sinergi semua pihak, kita optimistis potensi kebakaran dapat dikendalikan,” pungkasnya. (SIK)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id
