Samarinda, Kaltimetam.id – Lonjakan biaya hidup dalam beberapa waktu terakhir mulai memberikan dampak nyata bagi masyarakat di Kota Samarinda. Kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok hingga bahan bakar membuat banyak warga harus melakukan penyesuaian dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam mengatur pengeluaran rumah tangga yang kian membengkak.
Situasi ini tidak hanya terasa di kalangan tertentu, tetapi hampir merata di berbagai lapisan masyarakat. Aktivitas ekonomi seperti belanja harian hingga mobilitas kini semakin dipertimbangkan secara matang, seiring pendapatan yang tidak mengalami peningkatan signifikan.
Wakil Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti, menilai kondisi tersebut telah menimbulkan tekanan yang cukup besar terhadap kesejahteraan warga.
Ia mengungkapkan, keluhan masyarakat mulai sering terdengar, baik secara langsung maupun dari pengamatan di lapangan.
“Secara umum pasti semua menjerit ya, apalagi dengan kenaikan-kenaikan yang terjadi sekarang ini,” ujar Puji belum lama ini.
Menurutnya, kebutuhan bahan bakar menjadi salah satu faktor utama yang ikut mendorong peningkatan pengeluaran.
Aktivitas masyarakat yang bergantung pada mobilitas membuat kebutuhan ini sulit untuk ditekan, sementara harga yang terus meningkat memperberat beban harian.
Di sisi lain, potensi kenaikan harga kebutuhan lain seperti sembako hingga biaya listrik turut memperparah kondisi.
Kombinasi berbagai kenaikan tersebut dinilai semakin menyulitkan masyarakat, terutama karena tidak diiringi dengan peningkatan pendapatan.
“Pendapatan mereka tidak naik, tapi kebutuhannya terus naik. Ini yang kemudian menjadi keluhan masyarakat,” jelasnya.
Dampak dari tekanan ekonomi tersebut mulai terlihat dari perubahan pola hidup warga. Banyak masyarakat yang kini mulai menyesuaikan kebiasaan, termasuk dalam memilih moda transportasi yang lebih hemat.
Jika sebelumnya penggunaan mobil masih menjadi pilihan utama untuk beraktivitas, kini sebagian warga mulai beralih ke kendaraan roda dua sebagai langkah efisiensi.
“Kalau dulu mungkin naik mobil, sekarang jadi naik motor, itu salah satu bentuk mereka menyesuaikan kondisi,” imbuhnya.
Fenomena ini menjadi indikator bahwa tekanan biaya hidup tidak lagi sekadar isu, tetapi telah berdampak langsung pada keputusan sehari-hari masyarakat.
Perubahan kecil dalam kebiasaan tersebut mencerminkan upaya warga untuk bertahan di tengah kondisi ekonomi yang semakin menantang.
Keluhan serupa juga dirasakan langsung oleh warga. Warsih (40), seorang ibu rumah tangga di Samarinda, mengaku harus lebih cermat dalam mengelola keuangan keluarga agar tetap bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Sekarang serba mahal, jadi harus pintar-pintar ngatur uang. Kadang harus ngurangin belanja yang tidak terlalu penting,” tukasnya. (REE)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id
