Samarinda, Kaltimetam.id – Dua nyawa balita meregang di tangan ayah kandungnya sendiri. Peristiwa yang terjadi di Samarinda ini mencengangkan banyak pihak. Namun, di balik tragedi tersebut, terhampar persoalan-persoalan rumah tangga yang selama ini kerap luput dari perhatian, diantaranya ialah tekanan ekonomi, krisis peran dalam keluarga, dan kurangnya kepedulian sosial.
Psikolog UPT-DPPA Samarinda, Ayunda, menyebut peristiwa ini sebagai filicide, istilah psikologis untuk menyebut kasus pembunuhan anak oleh orang tuanya. Ia menekankan bahwa kasus seperti ini bukanlah hasil dari satu sebab tunggal, melainkan akumulasi dari banyak tekanan yang tak dikelola dengan baik.
“Fenomena filicide ini, kalau dari kacamata psikologi, bisa jadi karena ada beberapa faktor ya. Bisa dari kejiwaan, bisa juga dari faktor lingkungan, stresor lingkungan, atau faktor internal kepribadian, ketidakmampuan dia dalam mengendalikan emosi yang berujung pada perilaku agresi,” terang Ayunda, Kamis (31/07/2025).
Tragedi ini seolah menggambarkan situasi gunung es, ada banyak tanda yang bisa dibaca lebih awal, namun dibiarkan lewat begitu saja. Salah satunya, menurut Ayunda, adalah ketimpangan peran antara suami dan istri dalam keluarga muda tersebut.
“Informasi yang saya baca juga dia tidak bekerja, yang bekerja adalah istrinya. Jadi bisa jadi di situ ada ketimpangan peran antara seorang laki-laki yang dalam norma sosial kita kebanyakan menjadi kepala rumah tangga, ini tidak bisa menjalankan fungsi dan perannya,” ujarnya.
Ia menyoroti pula usia pelaku yang baru 24 tahun. Usia muda kerap dikaitkan dengan kematangan emosi yang belum terbentuk sepenuhnya. Dalam tekanan hidup yang panjang, ketidaksiapan menghadapi masalah bisa berubah menjadi frustrasi dan meledak menjadi tindakan fatal.
“Perubahan-perubahan perilaku itu kan harusnya bisa dideteksi secara dini kalau kita peka dan peduli. Jadi semestinya masyarakat sekitar juga udah harus lebih aware, jangan tunggu sampai terjadi pembunuhan,” tegasnya.
Faktor psikologis lainnya juga patut dicermati. Apakah pelaku memiliki gangguan kejiwaan yang belum terdiagnosis? Apakah ia berada di bawah pengaruh zat tertentu saat kejadian? Semua kemungkinan itu masih perlu ditelaah lebih dalam.
“Keinginan untuk membunuh itu biasanya juga dipicu oleh faktor lain yang perlu diperiksa, yaitu kondisi kejiwaan. Dimana ketika seseorang mengalami suatu gangguan, itu bisa mempengaruhi bagaimana seseorang berpikir, berpersepsi, dan mengelola emosi,” tambah Ayunda.
Sementara itu, kesaksian adik kandung pelaku, Nabila, memberikan gambaran bahwa perubahan sudah terjadi sejak jauh hari. Namun lagi-lagi, perubahan itu tak pernah benar-benar dianggap tanda bahaya.
“Dulu anaknya kayak friendly gitu, tapi lama-kelamaan jadi begitu. Murung di rumah. Sebelumnya kerja, suka ini ya sama tetangga, sama keluarga. Tapi bulan-bulan ini udah nggak kerja,” kata Nabila.
Ia juga mengungkap bahwa kakaknya mengalami masalah kesehatan, terutama lambung, yang menyebabkan tubuhnya makin lemah. Tapi tak satu pun dari keluarga menyangka hal seburuk ini akan terjadi.
“Abang saya itu baik. Masih nyuapin anaknya, masih mandiin. Tapi mungkin ada yang dipendamnya. Kita enggak tahu juga,” ucapnya.
Hubungan dengan istri sempat mengalami keretakan, meski secara status hukum belum ada perceraian.
“Cerai itu enggak, cuma kayak renggang aja mereka. Tapi pada saat kejadian itu mereka masih satu rumah,” katanya.
Melalui kasus ini, Ayunda kembali mengingatkan bahwa masyarakat sekitar seharusnya tak bersikap masa bodoh terhadap dinamika yang terjadi di lingkungan terdekat.
“Sebenarnya garda terdepan itu masyarakat. Kalau mendengar di samping rumah ada yang nangis, ada yang cek-cok, ayo segera ambil langkah. Peduli itu bukan berarti ikut campur tanpa solusi,” tegasnya.
Ia juga menyerukan agar masyarakat tak ragu memanfaatkan layanan konseling gratis yang disediakan pemerintah. Konsultasi ke Puspaga atau UPT-DPPA bisa menjadi salah satu upaya pencegahan bagi keluarga yang sedang berada dalam tekanan.
“Ke Puspaga, ke UPT-DPPA itu gratis kok. Kalau punya masalah, datanglah minta bantuan. Bicara sama orang yang kita percaya. Jangan memendam sendiri,” pesannya.
Pada akhirnya, Ayunda menyampaikan pesan yang menusuk kesadaran: sebesar apa pun masalah yang dihadapi orang tua, anak-anak tidak boleh menjadi korban.
“Masalah kita sebagai orang tua itu adalah masalah kita. Jangan dilampiaskan pada anak yang tidak berdosa,” tutupnya. (REE)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id
