Harga Cabai di Pasar Segiri Mulai Turun Tipis, Pedagang Wanti Wanti Jelang Natal

Cabai yang dijual di Pasar Segiri Samarinda menjelang Natal. (Foto: Ree/Kaltimetam.id)

Samarinda, Kaltimetam.id – Pergerakan harga cabai di Pasar Segiri mulai menunjukkan penurunan meski belum signifikan. Setelah sempat mengalami kenaikan pada pekan lalu, harga cabai kini turun tipis dan masih berfluktuasi, dipengaruhi stok dan kualitas barang dari daerah pemasok.

Meski penurunannya belum signifikan, kondisi ini memberi sedikit ruang napas bagi pedagang dan pembeli di tengah fluktuasi harga pangan menjelang akhir tahun.

Lia (40), pedagang cabai di Pasar Segiri Samarinda, menyebut penurunan harga memang terjadi, namun angkanya relatif kecil dan belum terlalu berpengaruh terhadap harga jual di lapak.

“Ini agak turun dikit. Tapi enggak banyak sih,” ujarnya, Kamis (18/12/2025).

Ia menjelaskan penurunan harga hanya berkisar sekitar Rp3.000 per kilogram. Harga cabai di pasaran pun masih bervariasi, tergantung jenis dan kualitas barang yang diterima pedagang dari pemasok.

“Paling turun-turun Rp3.000 aja,” kata Lia.

Menurutnya, perbedaan harga juga dipengaruhi sistem penjualan, antara grosir dan eceran. Harga grosir cenderung lebih murah, sementara harga eceran harus memperhitungkan sejumlah biaya tambahan yang ditanggung pedagang.

“Grosirnya pasti bedanya jauh sama eceran karena kita ngitungnya kan ada ongkos angkat, ada ongkos pilih, ada susut barang,” jelasnya.

Untuk penjualan eceran, Lia menyebut harga cabai berada di kisaran Rp60.000 hingga Rp70.000 per kilogram. Rentang harga tersebut ditentukan oleh jenis cabai dan kualitasnya.

“Itu beda jenis, beda juga harganya. Ada yang 60 juga. Kalau yang 65 lombok biasa,” ungkapnya.

Ia menilai naik turunnya harga cabai sulit dipastikan penyebab pastinya. Namun, faktor cuaca, kualitas hasil panen, serta ketersediaan stok dari daerah penghasil menjadi penentu utama pergerakan harga di tingkat pedagang.

“Enggak tahu juga saya ya, mungkin cuaca juga kan faktor kualitas barang, stok barangnya juga mungkin enggak banyak yang bagus,” ujarnya.

Menjelang Natal dan Tahun Baru, Lia belum bisa memastikan apakah harga cabai akan kembali mengalami kenaikan. Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, harga cabai tidak selalu melonjak saat momen hari besar, meski pernah juga mengalami kenaikan tergantung kondisi pasokan.

“Tergantung stok barang sama kualitas barang sih sebenarnya,” katanya.

Sebagian besar pasokan cabai di Pasar Segiri didatangkan dari Sulawesi, dengan daerah asal yang berbeda-beda seperti Palu dan wilayah lainnya. Perbedaan daerah pengiriman ini turut memengaruhi kondisi dan kualitas barang yang diterima pedagang.

Perubahan harga cabai juga berdampak pada pola belanja masyarakat. Saat harga tinggi, pembeli cenderung mengurangi jumlah pembelian dari yang biasanya satu kilogram menjadi seperempat atau setengah kilogram. Namun sebaliknya, ketika harga murah, pembeli justru lebih aktif menawar.

“Pembelinya mikir-mikir, kadang-kadang ini tadinya mau beli sekilo jadi mungkin seperempat,” ujar Lia.

Meski demikian, ramai atau sepinya pembeli tidak selalu berkaitan langsung dengan tinggi rendahnya harga cabai. Daya beli masyarakat tetap menjadi faktor utama yang menentukan.

Menjelang akhir tahun, Lia berharap kondisi harga cabai dapat lebih stabil agar pedagang dan pembeli sama-sama diuntungkan.

“Harapannya stabil aja sih. Stabil sama pembelinya juga ramai itu aja,” pungkasnya. (REE)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id

Exit mobile version