FKPM Loa Buah Nilai Jembatan Mahakam Ulu Seperti Anak Tiri, Desak Pemerintah Segera Lakukan Pembenahan Menyeluruh

Kondisi terkini Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu) terpantau banyak lubang. (Foto: Siko/Kaltimetam.id)

Samarinda, Kaltimetam.id – Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM) Kelurahan Loa Buah kembali menyuarakan kondisi Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu) di Kota Samarinda yang dinilai membutuhkan perhatian lebih serius dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Melalui surat terbuka yang ditujukan kepada Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, organisasi tersebut meminta evaluasi menyeluruh terhadap sistem pemeliharaan, fasilitas keselamatan, hingga kebersihan jembatan yang menjadi salah satu jalur transportasi paling vital di Kota Tepian.

Ketua FKPM Kelurahan Loa Buah, Sabil Husain, mengatakan surat terbuka tersebut bukan dimaksudkan untuk menyalahkan pemerintah, melainkan sebagai bentuk kepedulian masyarakat terhadap kondisi infrastruktur publik yang setiap hari digunakan ribuan orang. Menurutnya, berbagai keluhan mengenai Jembatan Mahakam Ulu sebenarnya telah berulang kali disampaikan kepada publik melalui pemberitaan media. Namun hingga kini, ia menilai belum terlihat langkah penanganan yang mampu menyelesaikan persoalan secara menyeluruh.

“Kami membuat surat terbuka kepada Bapak Gubernur karena berharap ada perhatian dan tindak lanjut. Yang kami inginkan bukan sekadar perbaikan sementara, tetapi penanganan yang benar-benar menyelesaikan persoalan,” katanya.

Salah satu persoalan yang paling disoroti FKPM adalah kondisi sambungan jembatan (expansion joint) yang menurut mereka berulang kali mengalami kerusakan.

Sabil mengaku pihaknya memperhatikan bahwa pekerjaan perbaikan memang beberapa kali dilakukan. Namun, berdasarkan pengamatan warga, kondisi tersebut kembali rusak dalam waktu relatif singkat sehingga menimbulkan kekhawatiran bagi pengguna jalan.

“Kami melihat perbaikannya sering dilakukan, tetapi menurut pengamatan kami hanya bertahan sekitar dua minggu, bahkan ada yang kurang dari itu, kemudian rusak lagi. Kondisi seperti ini terus berulang,” ujarnya.

Menurutnya, metode penanganan yang selama ini dilakukan dinilai masih bersifat sementara karena hanya menutup bagian yang rusak.

Ia berpendapat, lapisan tambalan pada sambungan jembatan justru membentuk gundukan yang terasa ketika kendaraan melintas.

“Kalau hanya ditambal terus, akhirnya menjadi bergelombang. Pengendara yang belum pernah melintas tentu tidak mengetahui kondisi itu, apalagi jika melaju dengan kecepatan tinggi,” tuturnya.

Selain kondisi badan jalan, FKPM juga menyoroti minimnya fasilitas pendukung keselamatan di kawasan Jembatan Mahakam Ulu.

Organisasi tersebut menilai penerangan jalan yang belum optimal, keterbatasan rambu lalu lintas, belum tersedianya kamera pengawas (CCTV) di sejumlah titik, hingga kerusakan median jalan menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian pemerintah.

Menurut Sabil, fasilitas keselamatan merupakan bagian penting dari sebuah infrastruktur strategis karena berkaitan langsung dengan keamanan pengguna jalan.

Ia mengungkapkan, relawan FKPM beberapa kali ikut membantu proses evakuasi pengendara yang mengalami kecelakaan di sekitar kawasan Jembatan Mahakam Ulu. Namun, ia tidak menyampaikan data resmi mengenai jumlah kejadian tersebut.

“Relawan FKPM beberapa kali membantu proses evakuasi ketika ada kecelakaan. Karena itu kami berharap aspek keselamatan benar-benar menjadi prioritas,” ucapnya.

FKPM juga menyinggung kondisi penerangan jembatan yang menurut mereka sudah lama tidak berfungsi secara optimal.

Menurut Sabil, kondisi tersebut tidak hanya mengurangi kenyamanan pengguna jalan pada malam hari, tetapi juga dinilai menyulitkan pengawasan di kawasan jembatan. Persoalan lain yang turut disoroti adalah kebersihan kawasan Jembatan Mahakam Ulu.

Sabil mengatakan masih ditemukan sampah dan rumput liar di sejumlah bagian jembatan. Menurutnya, kondisi tersebut mencerminkan perlunya peningkatan pemeliharaan rutin terhadap salah satu ikon infrastruktur Kota Samarinda tersebut.

“Kalau melihat sekarang, rumput sudah tumbuh dan sampah masih terlihat di beberapa bagian. Menurut kami, ini menunjukkan perlunya perhatian lebih terhadap pemeliharaan rutin,” katanya.

Ia menegaskan bahwa Jembatan Mahakam Ulu memiliki fungsi yang jauh lebih besar dibanding sekadar penghubung antarwilayah.

Menurutnya, setiap hari jembatan tersebut menjadi akses utama masyarakat menuju tempat kerja, sekolah, pusat perdagangan, rumah ibadah, hingga jalur distribusi berbagai kebutuhan pokok.

Karena itu, ia berharap pemeliharaan jembatan dilakukan secara berkelanjutan dan mengedepankan aspek keselamatan pengguna jalan.

FKPM juga berharap Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dapat melakukan inspeksi langsung ke lapangan agar kondisi jembatan dapat dilihat secara utuh.

Selain itu, mereka mengusulkan adanya dialog terbuka antara pemerintah dan masyarakat untuk membahas berbagai persoalan yang selama ini menjadi keluhan warga.

“Kami ingin ada komunikasi yang baik. Harapan kami sederhana, pemerintah hadir melihat langsung kondisi di lapangan dan mengambil langkah nyata agar masyarakat merasa aman saat melintasi Jembatan Mahakam Ulu,” ujar Sabil.

Terkait langkah selanjutnya, Sabil mengatakan FKPM masih memilih menunggu respons pemerintah atas surat terbuka yang telah disampaikan. Namun, apabila dalam waktu tertentu belum terdapat tindak lanjut, ia menyebut masyarakat akan mempertimbangkan penyampaian aspirasi melalui aksi damai dengan tetap menjaga ketertiban serta tidak mengganggu aktivitas pengguna jalan.

“Kami masih menunggu respons pemerintah. Kalau memang belum ada tindak lanjut, tentu masyarakat akan membicarakan langkah berikutnya. Namun kami tetap mengedepankan cara-cara yang tertib dan tidak mengganggu kepentingan masyarakat,” tutupnya. (SIK)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id