Samarinda, Kaltimetam.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah kini menjadi salah satu perhatian besar di Kota Samarinda. Tidak sekadar memberi asupan makanan gratis, program ini juga dijalankan dengan standar operasional yang ketat untuk memastikan setiap porsi makanan aman, bergizi, dan higienis bagi para pelajar.
Di balik tersajinya ribuan paket makanan setiap pagi, terdapat kerja keras para petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tak kenal lelah. Salah satunya SPPG Loa Janan Ilir, yang setiap harinya memproduksi 3.513 porsi makanan untuk didistribusikan ke 12 sekolah di wilayahnya.
Ahli Gizi SPPG Loa Janan Ilir, Tia Rahma, menegaskan pentingnya kedisiplinan tim dapur dalam menjaga kebersihan selama proses memasak. Baginya, menjaga higienitas makanan sama pentingnya dengan memastikan nilai gizi terpenuhi.
“Saya selalu mengingatkan seluruh tim agar menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) dan menjaga kebersihan, terutama saat mencuci sayur dan lauk-pauk. Karena kami menyediakan makanan untuk anak sekolah, kebersihan menjadi hal yang sangat penting agar terhindar dari keracunan makanan,” ujarnya.
SOP ketat berlaku sejak tahap awal. Mulai dari pemilihan bahan makanan, pencucian sayuran dengan air bersih, hingga penggunaan alat masak yang dicuci sebelum dan sesudah dipakai. Semua langkah itu dilakukan untuk memastikan tidak ada celah yang berpotensi menimbulkan masalah kesehatan.
Untuk mengejar ketepatan waktu distribusi, proses produksi makanan dimulai sejak dini hari. Pukul 12 malam, tim dapur sudah memulai persiapan bumbu. Pada pukul 01.00 dini hari, lauk hewani dan nabati mulai dimasak, disusul dengan sayur yang baru diolah sekitar pukul 03.00 subuh.
“Memasak tidak dilakukan sekaligus, tapi bertahap. Dengan cara ini, kualitas rasa dan nutrisi tetap terjaga. Biasanya semua sudah selesai dan siap diporsikan sekitar pukul 04.00 subuh,” jelasnya.
Dari dapur yang penuh dengan aroma masakan, puluhan petugas bekerja dalam ritme teratur. Setiap panci besar dan wajan raksasa yang mereka gunakan menjadi saksi kerja keras demi menghadirkan makanan bergizi ke meja belajar para siswa.
Sebelum makanan diangkut menuju sekolah, ada satu prosedur wajib: uji rasa. Tia menuturkan dirinya bersama penanggung jawab dapur selalu mencicipi makanan terlebih dahulu.
“Biasanya saya mencicipi bersama penanggung jawab dapur. Hal ini dilakukan untuk menjaga kualitas rasa sekaligus memastikan makanan aman untuk dikonsumsi,” bebernya.
Tahap ini dianggap sebagai pagar terakhir sebelum ribuan porsi makanan menyebar ke sekolah-sekolah. Dengan demikian, pelajar yang menerima MBG bisa menyantapnya dengan tenang tanpa khawatir soal kualitas.
Setiap hari, 3.513 siswa dari 12 sekolah di Loa Janan Ilir menerima manfaat program MBG. Mereka mendapat satu paket makanan lengkap, mulai dari lauk hewani, lauk nabati, sayur, hingga tambahan gizi lain sesuai menu harian.
Bagi banyak keluarga, program ini menjadi penopang penting. Selain membantu meringankan beban biaya, MBG juga menjamin anak-anak mereka tetap mendapatkan asupan gizi seimbang. Hal ini berdampak positif terhadap konsentrasi belajar di sekolah.
Di balik angka-angka, program MBG memiliki makna sosial yang lebih luas. Selain menjaga kesehatan siswa, program ini juga membuka lapangan kerja baru. Mulai dari tenaga masak, petugas distribusi, hingga ahli gizi yang memastikan standar kesehatan terpenuhi.
“Produksi makanan kami bukan hanya soal memasak, tetapi juga soal tanggung jawab. Ada ribuan anak yang bergantung pada kualitas makanan yang kami siapkan. Itu menjadi motivasi kami untuk bekerja dengan sungguh-sungguh,” pungkasnya. (SIK)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id







