Berulang Kali Jadi Lokasi Aksi Bunuh Diri, Pengamat Nilai Jembatan Mahakam I Butuh Pagar Tinggi dan Sistem Pengawasan Aktif

Kondisi di Jembatan Mahakam I Samarinda yang tanpa adanya pengaman bagi pejalan kaki. Foto: Siko/Kaltimetam.id)

Samarinda, Kaltimetam.id – Kembali terjadinya peristiwa seseorang terjun dari Jembatan Mahakam I memunculkan pertanyaan besar mengenai aspek keselamatan pada salah satu ikon Kota Samarinda tersebut. Di tengah berulangnya insiden serupa dalam beberapa tahun terakhir, desakan agar pemerintah segera melakukan pembenahan infrastruktur dan sistem pengawasan di kawasan jembatan semakin menguat.

Pengamat kebijakan publik Saiful Bahtiar menilai rentetan kejadian bunuh diri maupun upaya bunuh diri yang terjadi di Jembatan Mahakam I tidak bisa lagi dipandang sebagai peristiwa yang berdiri sendiri. Menurutnya, pemerintah perlu melihat fenomena tersebut sebagai peringatan serius bahwa terdapat aspek keselamatan fasilitas publik yang harus segera dievaluasi.

“Kalau kita bicara fasilitas publik, termasuk jembatan, maka ada empat unsur yang harus dipenuhi, yaitu keamanan, keselamatan, kenyamanan, dan estetika. Itu menjadi hak masyarakat sebagai pengguna fasilitas publik,” katanya.

Menurutnya, Jembatan Mahakam I yang dibangun pada era 1985-an memang memiliki nilai historis tinggi bagi masyarakat Kalimantan Timur. Namun usia infrastruktur yang sudah lebih dari empat dekade membuat sejumlah standar keselamatan yang diterapkan saat pembangunan dahulu dinilai tidak lagi sesuai dengan kebutuhan saat ini.

Ia menyoroti rendahnya pagar pengaman di sisi jembatan yang dinilai belum mampu memberikan perlindungan maksimal bagi pejalan kaki maupun masyarakat yang berada di kawasan tersebut.

“Kalau dilihat dari sisi keselamatan, menurut saya Jembatan Mahakam yang lama ini memang belum memenuhi unsur keselamatan secara komprehensif. Karena itu perlu ada pembaruan fasilitas, salah satunya dengan menambah pagar atau proteksi yang lebih tinggi,” ujarnya.

Usulan tersebut bukan tanpa alasan. Dalam beberapa tahun terakhir, Jembatan Mahakam I berulang kali menjadi lokasi aksi bunuh diri yang berakhir tragis. Hampir setiap kali terjadi insiden, tim gabungan dari Basarnas, kepolisian, relawan, hingga warga harus melakukan operasi pencarian di perairan Sungai Mahakam.

Peristiwa-peristiwa tersebut tidak hanya menyita perhatian publik, tetapi juga menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas sistem pengamanan yang ada di kawasan jembatan.

Saiful mengatakan, keberadaan pagar yang lebih tinggi dapat berfungsi sebagai penghalang fisik yang mampu memperkecil peluang seseorang melakukan tindakan berbahaya.

“Kalau dibuat pagar besi yang lebih tinggi atau proteksi tambahan, setidaknya bisa mengurangi kemungkinan seseorang melompat dengan sengaja. Selain itu, juga melindungi pengguna jalan lainnya dari risiko kecelakaan,” katanya.

Lebih lanjut, Saiful menilai pemerintah juga perlu memperkuat sistem pengawasan berbasis teknologi melalui pemasangan kamera CCTV yang terintegrasi dengan pusat pemantauan aktif selama 24 jam.

Ia menilai selama ini kamera pengawas yang terpasang di sejumlah titik belum tentu efektif apabila tidak ada petugas yang secara khusus memantau dan merespons kondisi di lapangan secara real time.

“CCTV itu tidak cukup hanya merekam. Yang lebih penting adalah ada operator yang mengawasi. Kalau ada seseorang yang menunjukkan perilaku mencurigakan atau berpotensi melakukan tindakan berbahaya, petugas bisa langsung mengambil langkah cepat,” tuturnya.

mengambil langkah cepat,” ujarnya.

Menurut Saiful, keberadaan sistem pemantauan aktif juga dapat membantu mengantisipasi berbagai potensi gangguan keamanan lainnya seperti tindak kriminalitas, perampokan, hingga aksi kekerasan yang mungkin terjadi di kawasan jembatan.

Ia bahkan mengusulkan agar pemerintah mempertimbangkan kembali keberadaan pos pengamanan permanen yang dulu pernah ada di sekitar Jembatan Mahakam.

“Dulu ada pos pengamanan. Konsep seperti itu bisa dihidupkan kembali atau dikombinasikan dengan sistem pemantauan digital yang modern. Yang penting ada kontrol dan pengawasan yang jelas,” katanya.

Selain persoalan keselamatan, Saiful juga menyoroti kondisi estetika Jembatan Mahakam I yang menurutnya memerlukan perhatian serius.

Ia menyinggung keberadaan kabel-kabel utilitas yang terlihat semrawut di sepanjang badan jembatan sehingga mengurangi nilai visual salah satu landmark Kota Samarinda tersebut.

“Kalau bicara fasilitas publik modern, bukan hanya aman dan nyaman, tetapi juga harus enak dipandang. Kabel-kabel yang semrawut itu mestinya dirapikan agar lebih tertata,” tutupnya. (SIK)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id

Exit mobile version