Samarinda, Kaltimetam.id – Masalah tempias air hujan kembali dirasakan pedagang di Pasar Pagi Samarinda. Kondisi ini dinilai mengganggu aktivitas jual beli, terutama bagi pedagang pakaian yang barang dagangannya rentan rusak akibat air dan paparan panas matahari langsung.
Salah satu pedagang, Kholif, mengungkapkan bahwa keluhan terkait kebocoran dan tempias sebenarnya sudah lama disampaikan kepada instansi terkait.
Namun hingga kini, penanganan yang diharapkan belum juga terealisasi, sehingga pedagang terpaksa mencari solusi mandiri agar tetap bisa bertahan berjualan.
“Kami sudah melaporkan kondisi di lapangan, soal kebocoran, tempias, sampai panas matahari. Tinggal bagaimana kebijakan dari pihak terkait. Kami ini sifatnya hanya menyampaikan kondisi,” ujarnya, Sabtu (31/1/2026).
Menurut Kholif, panas matahari di siang hingga sore hari juga menjadi persoalan tersendiri. Selain membuat pedagang tidak nyaman, paparan panas berlebihan berpotensi merusak kualitas barang dagangan, khususnya pakaian yang mudah pudar warnanya.
Pedagang di Pasar Pagi, lanjutnya, sebenarnya sudah memiliki grup komunikasi per lantai untuk saling berbagi informasi, termasuk soal titik-titik yang rawan tempias.
Namun, karena belum ada solusi konkret, sebagian pedagang akhirnya berinisiatif memasang paranet secara mandiri.
“Kalau hujan atau panas, kami yang repot sendiri. Jadi ini murni inisiatif pribadi, modal sendiri, tidak ada izin karena kalau menunggu, ekonomi kami terganggu,” katanya.
Pemasangan paranet tersebut diakui bukan solusi permanen. Namun setidaknya mampu mengurangi dampak langsung dari tempias hujan dan terik matahari.
Beberapa pedagang di lantai atas bahkan sepakat melakukan iuran bersama, meski penerapannya bergantung pada kesediaan masing-masing pedagang.
“Paranet ini hanya untuk meminimalisir. Kalau hujan deras, tempiasnya memang besar, tapi dengan paranet jadi lebih teredam. Panas matahari juga begitu,” jelas Kholif.
Ia menambahkan, panas matahari biasanya mulai terasa pada sore hari, sekitar pukul 14.00 hingga 15.00 Wita, terutama di sisi kios yang menghadap barat.
Berbeda dengan kios di sisi lain yang terlindung bangunan dan tembok, posisi tersebut membuat pedagang lebih terdampak langsung.
Kondisi cuaca buruk juga memaksa pedagang mengambil langkah cepat demi menghindari kerugian lebih besar.
Seperti yang terjadi baru-baru ini, sejumlah pedagang memilih menutup kios lebih awal meski barang dagangan belum sempat terkena air hujan.
“Bukan karena barang sudah kena, tapi kalau tetap buka risikonya besar. Jadi kemarin kami tutup lebih cepat,” ungkapnya.
Menjelang bulan Ramadan, pedagang berharap persoalan ini segera mendapat perhatian serius.
Menurut Kholif, Pasar Pagi seharusnya menjadi ruang yang benar-benar mendukung perputaran ekonomi pedagang, bukan justru menghadirkan hambatan tambahan.
“Harapan kami cepat ada solusi. Jangan dibiarkan terlalu lama, apalagi mau bulan puasa. Kalau ada kendala begini, usaha kami tidak bisa maksimal,” tegasnya.
Sebagai pedagang generasi kedua, Kholif mengaku baru menempati kios di Pasar Pagi sejak awal Januari lalu, setelah proses pembagian kunci pascarelokasi.
Sejak itu pula, ia mulai merasakan langsung berbagai persoalan teknis yang masih terjadi di lapangan.
“Mudah-mudahan keluhan pedagang bisa segera direspons dan ditangani dengan cepat,” harap Kholif. (REE)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id
