Belajar di Sore Hari Selama Enam Tahun, Siswa SMPN 48 Samarinda Kehilangan Hak Belajar Ideal: Relokasi Jadi Kebutuhan Mendesak

SMPN 48 Samarinda yang saat ini masih menumpang pada bangunan sekolah SDN 016. (Foto: Ree/Kaltimetam.id)

Samarinda, Kaltimetam.id – Enam tahun terakhir, ratusan siswa SMPN 48 Samarinda menjalani proses belajar di jam yang tidak lazim bagi sekolah menengah. Mereka baru memulai pelajaran setelah pukul 13.00 Wita, karena bangunan yang digunakan masih berbagi dengan dua sekolah dasar. Kondisi ini bukan hanya soal ruang, tetapi menyangkut hak dasar siswa untuk memperoleh pembelajaran yang ideal.

Ruang belajar yang dipakai bergantian dengan SD 004 dan SD 016 Sungai Pinang membuat SMP 48 terpaksa menyesuaikan seluruh jadwal akademik. Aktivitas baru selesai sore hari, sementara kegiatan ekstrakurikuler harus digeser lebih akhir. Para guru dan siswa hidup dalam rutinitas yang tidak pernah stabil sejak sekolah berdiri.

Kepala SMP 48 Samarinda, Suprayitna, menilai dampaknya bukan hanya soal ketidaknyamanan, tetapi menyentuh kualitas pendidikan.

“Kuotanya 32 siswa per rombel, tapi di SMP 48 ada 34 sampai 36 siswa tiap kelas. Makanya relokasi perlu untuk memberi ruang belajar yang lebih layak dan leluasa bagi anak didik maupun guru,” ungkapnya, Selasa (25/11/2025).

Ia menambahkan, penumpukan rombongan belajar (rombel) sudah melewati batas ideal, membuat upaya menerapkan pembelajaran yang optimal tidak mudah dalam ruang yang terbatas.

Karena harus menunggu dua SD menyelesaikan aktivitasnya, jam pelajaran SMP 48 sering kali berlangsung hingga pukul 17.00 Wita pada hari-hari biasa. Pada Sabtu, kegiatan selesai pukul 16.00 Wita, kemudian dilanjutkan ekstrakurikuler.

Durasi yang panjang ini membuat anak-anak pulang saat kondisi mulai gelap, sementara guru harus mengejar standar pembelajaran di waktu yang lebih pendek.

“Kami harus mengatur jadwal sedemikian rupa supaya standar pembelajaran tetap terpenuhi. Karena masih memakai ruangan SD, semuanya harus menyesuaikan,” jelas Suprayitna.

Meski berbagai kendala itu nyata terasa, sekolah tetap berupaya memperbarui metode belajar. Bantuan Interactive Flat Panel (IFP) dari Presiden menjadi satu-satunya bentuk kemajuan besar di tengah situasi serba terbatas.

“Kami sangat bersyukur. Jadi walaupun masih menumpang, proses belajar digital tidak kalah dengan sekolah-sekolah lain,” ucapnya.

Dorongan relokasi bukan sekadar ambisi sekolah, tetapi kesadaran bersama bahwa siswa SMP 48 berhak memiliki ruang belajar mandiri. Pemerintah kota telah mengkaji beberapa lokasi untuk dijadikan tapak pembangunan baru. Opsi paling menjanjikan disebut berada di Gang Menanti, sekitar 600–700 meter dari gedung saat ini.

“Tanah di sana luas dan strategis jika dibangun SMP 48. Sudah ditinjau PUPR, BPKAD, dan TWAP. Masyarakat juga sangat berharap relokasi ke titik itu,” kata Suprayitna.

Namun, lokasi itu merupakan tanah milik warga sehingga pemkot harus menyelesaikan proses pembebasan lahan terlebih dahulu.

“Sekarang sedang diupayakan pemerintah untuk proses pembebasan lahan,” ujarnya.

Saat ini SMP 48 menampung 401 siswa. Dengan jumlah sebanyak itu dan ruang yang tidak dirancang untuk sekolah menengah, kualitas proses belajar tertekan dari tahun ke tahun. Masyarakat di kawasan Proklamasi dan Gerilya sudah lama merasakan dampaknya.

“Warga Proklamasi dan Gerilya sangat berharap Pemkot Samarinda bisa segera merelokasi SMP 48 agar anak-anak bisa belajar pagi dan proses pembelajaran sesuai harapan masyarakat,” pungkasnya. (REE)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id

Exit mobile version