Samarinda, Kaltimetam.id – Penampilan memukau dalam pembukaan 2nd East Borneo International Taekwondo Championship 2025 pada Kamis (17/7/2025) bukan hanya datang dari para atlet, tetapi juga dari panggung seni budaya. Salah satu sorotan utama datang dari penampilan tari kolosal yang dibawakan oleh Sanggar Tari Borneo Etnika Kalimantan Timur. Di antara para penari, Kevin Alief Pratama (25) menjadi sosok inspiratif yang mencuri perhatian.
Kevin, pria asal Samarinda, telah berkecimpung di dunia tari sejak usia 15 tahun. Ia membuktikan bahwa seni tari bukan hanya milik perempuan. Justru lewat ketekunannya, ia tampil percaya diri mewakili Kalimantan Timur di berbagai panggung besar, mulai dari Jakarta, Surabaya, Mandalika, hingga di depan Presiden RI.
“Awalnya saya sering dipandang sebelah mata karena laki-laki menari dianggap lemah gemulai,” ujar Kevin.
“Tapi saya buktikan bahwa penari laki-laki punya porsi sendiri yang tidak sama dengan perempuan,” lanjutnya.
Penampilannya bersama 60 penari lainnya dalam pembukaan ajang taekwondo internasional tersebut mengangkat tema ‘Nusantara’, menampilkan kekayaan budaya dari berbagai provinsi di Indonesia. Tarian yang ditampilkan antara lain Kajet Lepatai dari Kalimantan Timur, tari Betawi dari Jakarta, tortor dari Batak, papan dendam dari Sulawesi, hingga tarian Papua yang enerjik.
Persiapan pertunjukan tersebut hanya berlangsung selama seminggu, namun hasilnya mendapat pujian dari para penonton dan tamu undangan. Kostum para penari pun dikerjakan hanya dalam dua hari oleh tim internal sanggar.
“Kami pilih tarian yang menggambarkan keceriaan karena ini acara internasional dan ditampilkan saat pembukaan,” jelas Kevin.
Meski harus menghadapi stigma dan cemoohan, Kevin tetap konsisten mengasah kemampuannya. Ia tidak hanya menjadi penari, tetapi juga aktif sebagai mentor di dunia pageant dan duta, mulai dari Duta Wisata Kota Samarinda, Mister Teen Kaltim dan IKN, Miss Teenager Kaltim dan IKN, hingga pelatih marching band.
Baginya, menari adalah bentuk pelestarian budaya sekaligus perlawanan terhadap stigma yang keliru terhadap seni tradisional. Ia berharap bisa menjadi panutan bagi generasi muda Kaltim untuk ikut melestarikan budaya daerah.
“Awal saya menari karena melihat minat anak muda terhadap tarian daerah sangat minim. Saya ingin jadi role model, bahwa budaya itu bukan sesuatu yang ketinggalan zaman,” katanya.
Kevin juga mengungkapkan bahwa saat ini minat terhadap tari tradisional di Kaltim semakin tumbuh. Ia melihat peningkatan partisipasi dari siswa SD hingga SMA dalam berbagai lomba dan pertunjukan.
“Harapannya, semoga dengan hadirnya kami di dunia tari tradisional, bisa menginspirasi pemuda-pemudi lain untuk ikut melestarikan budaya,” tutupnya. (REE)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id
