Samarinda, Kaltimetam.id – Aksi demonstrasi mahasiswa yang berlangsung di depan Gedung DPRD Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), Senin (1/9), nyaris berujung ricuh saat malam mulai turun. Ribuan mahasiswa dari Aliansi Mahakam yang sejak siang menyuarakan aspirasi, masih bertahan di lokasi meski sebagian sudah sempat bertemu pimpinan dewan. Di sisi lain, aparat kepolisian yang berjaga semakin memperketat barisan pengamanan.
Tensi memanas. Saling dorong di antara mahasiswa dan aparat mulai terlihat. Sejumlah mahasiswa sudah bersiap maju, sementara tameng aparat terangkat lebih rapat. Situasi tersebut menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya bentrokan.
Namun, di saat genting itu, hadir sosok sederhana yang kemudian menjadi penentu meredanya ketegangan. Dia adalah Sulastri, seorang ibu rumah tangga yang tanpa ragu maju ke depan barisan massa.
Sulastri yang mengenakan pakaian sederhana, mendekat ke mobil taktis kepolisian dan meminta izin menggunakan pengeras suara. Sambil menahan tangis, ia melontarkan kalimat yang menyentuh hati.
“Demi orang tua kalian, demi masa depan kalian, demi negara kita, ayo kita mundur,” serunya dengan suara bergetar.
Tangannya terangkat, memberi isyarat agar kedua kubu menahan diri.
Meski hanya seorang diri, keberanian Sulastri membuat ribuan pasang mata terdiam. Perlahan, mahasiswa yang sudah bersiap melawan mulai mengendurkan langkah. Aparat kepolisian pun memilih menahan diri. Dalam hitungan menit, suasana yang semula memanas berangsur reda.
“Kalau bukan karena ibu itu, mungkin sudah pecah tadi malam,” ungkap seorang pedagang kaki lima yang berjualan di sekitar lokasi aksi.
Aksi heroik Sulastri terekam kamera warga dan segera tersebar di media sosial. Video berdurasi sekitar satu menit itu memperlihatkan sosok ibu paruh baya yang menangis sambil menyerukan perdamaian.
Unggahan tersebut sontak menjadi viral. Berbagai komentar warganet bermunculan, mulai dari yang haru hingga yang bernada sindiran.
“Itu (yang masih demo) beneran mahasiswa? Kok, kayak udah semester 14 ke atas,” tulis seorang pengguna dengan akun Wahyudi96.
“Pulang sudah malam loh, kan sudah turun anggota DPRD-nya,” tulis Kiki Maulida
Meski begitu, mayoritas komentar memuji tindakan Sulastri. Banyak yang menyebut keberanian seorang ibu lebih ampuh daripada pasukan keamanan sekalipun.
“Kadang, suara seorang ibu bisa lebih menenangkan daripada seribu orasi,” tulis salah satu pengguna media sosial yang mendapat ribuan tanda suka.
Sejatinya, aksi yang digelar mahasiswa berlangsung damai sejak siang hari. Mereka sempat bertemu dengan Ketua DPRD Kaltim, Hasanuddin Mas’ud, untuk menyampaikan aspirasi terkait isu nasional maupun lokal.
Namun, menjelang malam, sebagian mahasiswa enggan membubarkan diri. Ketegangan meningkat saat sebagian massa bersitegang dengan aparat yang berjaga. Situasi inilah yang akhirnya memunculkan keberanian seorang ibu untuk turun tangan.
Aksi heroik Sulastri mendapat apresiasi luas, tidak hanya dari masyarakat tetapi juga kalangan akademisi. Pengamat sosial dari Universitas Mulawarman menilai, momen itu menjadi bukti bahwa suara rakyat biasa bisa menjadi penengah di tengah konflik. (SIK)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id
