Perdana di Samarinda, 270 UMKM Siap Ramaikan Car Free Night 18 April di Jalan Kesuma Bangsa

Jalan Kesuma Bangsa, lokasi pertama yang akan digelar Car Free Night pada Sabtu malam (18/4/2026). (Foto: Ree/Kaltimetam.id)

Samarinda, Kaltimetam.id – Pemerintah Kota Samarinda mulai menguji konsep baru dalam pengendalian mobilitas kendaraan bermotor melalui program Car Free Night (CFN). Rencananya, uji coba perdana akan digelar pada Sabtu malam, 18 April 2026, di kawasan Jalan Kesuma Bangsa.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Samarinda, Hotmarulitua Manalu, mengungkapkan bahwa ide CFN muncul sebagai tindak lanjut arahan pemerintah pusat terkait efisiensi energi, khususnya pengendalian penggunaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

“CFN ini muncul dari rapat hari Selasa, menindaklanjuti arahan Presiden untuk efisiensi energi BBM. Ini jadi prioritas karena ada subsidi negara di BBM yang digunakan kendaraan bermotor,” ujar Manalu, Jum’at (17/4/2026).

Menurutnya, pembatasan mobilitas kendaraan menjadi salah satu langkah konkret yang bisa dilakukan pemerintah daerah.

Program ini melengkapi Car Free Day (CFD) yang telah berjalan sebelumnya, dengan pendekatan serupa namun dilaksanakan pada malam hari.

“Konsepnya hampir sama dengan CFD, hanya saja ini malam hari. Tidak boleh ada kendaraan lalu lalang di lokasi kegiatan,” jelasnya.

CFN di Kesuma Bangsa akan berlangsung mulai pukul 19.30 hingga 23.00 Wita dan dirancang sebagai ruang publik bagi masyarakat untuk beraktivitas tanpa kendaraan bermotor.

Selain itu, kegiatan ini juga akan melibatkan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

“Dari pengurus UMKM, sudah ada sekitar 270 tenant yang mendaftar. Artinya antusiasme masyarakat cukup tinggi untuk kegiatan malam hari seperti ini,” ungkap Manalu.

Untuk mendukung pelaksanaan CFN, Dishub telah menyiapkan skema parkir terpusat. Masyarakat yang ingin berkunjung diarahkan memarkir kendaraan di kawasan GOR Segiri atau pusat perbelanjaan terdekat, kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki atau bersepeda.

“Kita harapkan masyarakat datang dengan berjalan kaki atau bersepeda. Ini bagian dari upaya mengurangi penggunaan kendaraan berbahan bakar fosil,” katanya.

Manalu menegaskan, program ini bukan hanya soal ruang publik, tetapi juga menjadi bagian dari kontribusi daerah dalam mengendalikan konsumsi BBM subsidi.

“Ini bentuk kontribusi Samarinda dalam mengendalikan penggunaan BBM subsidi, dimulai dari lingkungan kota sendiri,” tegasnya.

Meski demikian, efektivitas program dalam menekan konsumsi BBM maupun meningkatkan kualitas udara belum bisa diukur secara pasti.

Namun, ia meyakini penutupan ruas jalan dari kendaraan bermotor tetap memberikan dampak positif.

“Paling tidak, di lokasi itu tidak ada kendaraan, sehingga kualitas udara bisa lebih baik dibanding ruas jalan yang masih dilalui kendaraan,” jelasnya.

Terkait potensi kemacetan, Manalu menilai hal tersebut sebagai konsekuensi awal yang bersifat sementara.

Ia bahkan menyebut kondisi tersebut bisa mendorong perubahan kebiasaan masyarakat dalam memilih moda transportasi.

“Kalau macet itu lebih ke psikologis. Tapi dari situ masyarakat akan mulai mencari alternatif, termasuk menggunakan transportasi umum,” ujarnya.

Ke depan, Dishub juga merencanakan pengembangan CFD di beberapa titik lain seperti kawasan Citra Niaga dan Jalan Anggi.

Namun, pelaksanaannya masih menunggu hasil evaluasi serta koordinasi dengan masyarakat dan pemangku kepentingan setempat.

“Untuk CFN ini akan kita lakukan rutin setiap minggu. Sementara titik lain menyusul setelah ada kesepakatan bersama,” demikian Manalu. (REE)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id