Samarinda, Kaltimetam.id – Kawasan Jalan Bung Tomo, Kelurahan Sungai Keledang, Kecamatan Samarinda Seberang, kini memiliki ruang publik baru berupa taman hijau berkonsep modern.
Namun keberadaan taman yang berdampingan sangat dekat dengan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) aktif memicu kritik warga dan menjadi perhatian Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda karena dinilai kurang tepat secara tata ruang dan kenyamanan publik.
Taman bawah jembatan Sungai Keledang itu dibangun untuk menambah ruang terbuka hijau di wilayah padat permukiman kota. Area ini dilengkapi fasilitas dasar seperti penerangan dan kursi taman yang membuatnya menjadi titik berkumpul warga, terutama saat sore hingga malam hari.
Namun ruang hijau tersebut dibangun tidak jauh dari lokasi TPS yang masih aktif menerima sampah rumah tangga masyarakat.
Jarak antara taman dan TPS bahkan kurang dari 50 meter, sehingga aroma sampah yang menyengat sering terbawa angin dan mengganggu kenyamanan pengunjung.
Kepala Bidang Tata Lingkungan dan Pertamanan DLH Kota Samarinda, Basuni, mengatakan bahwa saat ini pengelolaan taman tersebut belum jelas sepenuhnya berada di bawah instansinya karena taman masih berada di bawah PUPR setelah pembangunan selesai.
“Taman yang ada di Jalan Bung Tomo yang baru dibangun, kebetulan sampai saat ini memang belum diserahterimakan secara resmi ke siapa,” ujarnya saat ditemui, Selasa (20/1/2025).
Basuni menjelaskan bahwa DLH bersama PUPR, kecamatan, dan kelurahan akan melakukan diskusi lanjutan untuk menentukan alur pengelolaan fasilitas tersebut.
Langkah ini dianggap penting agar taman yang seharusnya menjadi ruang publik yang nyaman tidak justru kehilangan fungsi karena adanya TPS di sisi yang berdekatan.
Menurut Basuni, salah satu solusi sementara yang tengah dipertimbangkan adalah memindahkan arah pintu masuk TPS agar tidak langsung menghadap taman.
“Sementara karena TPS itu masih sangat dibutuhkan dan sulit dipindahkan, rekayasa ruang seperti memindahkan pintu masuk mungkin bisa jadi solusi sementara,” jelasnya.
Soal opsi penggunaan pagar hidup sebagai pemisah visual dan penghalang bau juga sempat dibahas, tetapi usulan itu dianggap tidak layak di lapangan karena ruang tanam yang sempit dan area taman sebagian besar sudah berlapis cor beton.
“Awalnya kami pikir bisa tanam pagar hidup, tapi ruang tanamnya tidak ada, jadi kita lihat opsi lain,” katanya.
Lebih lanjut, Basuni juga menyebut bahwa DLH tengah mengkaji penambahan pohon-pohon peneduh untuk memperbaiki mikroklimat di seputar taman.
Tanaman seperti ketapang kencana, yang memiliki tajuk lebar, disarankan untuk membantu menciptakan ruang teduh di area duduk.
Rencana ini diharapkan bisa meningkatkan kenyamanan pengunjung meskipun taman berada di lokasi yang terbuka.
“Kalau ruang tanam masih bisa dibangun di beberapa titik, akan kami tanam pohon peneduh supaya taman bisa dinikmati meskipun siang hari,” ungkapnya.
Sementara itu, warga yang kerap memanfaatkan taman juga menyampaikan pandangannya. Linda (15), yang sehari-hari berjualan minuman tidak juah dari lokasi, menilai taman sudah menjadi pilihan warga untuk berkumpul, tetapi gangguan bau dari TPS tetap menjadi masalah utama.
“Tamannya bagus, cuma soal sampah itu yang kadang mengganggu,” ujarnya.
Ia juga menyebut bahwa taman akan lebih ramai jika dilengkapi area bermain anak seperti perosotan atau ayunan karena banyak keluarga yang ingin membawa anaknya bermain.
Keberadaan taman yang berdampingan langsung dengan TPS membuat warga berharap adanya penataan yang lebih berpihak pada kenyamanan pengunjung.
“Kalau sampahnya bisa diatur atau ditata ulang, taman ini bisa jadi tempat yang nyaman untuk kita semua main dan nongkrong,” tandas Linda. (REE)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @Kaltimetam.id







